BeritaDAERAHPENDIDIKANSosial

LAZISMU Kota Magelang Miliki Program SERASI

×

LAZISMU Kota Magelang Miliki Program SERASI

Sebarkan artikel ini
Para Mahasiswi Program Studi Hukum Ekonomi Syariah UNIMMA melaksanakan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Riset Sosial Humaniora. (foto: dok.PKM RSH)

KOTA MAGELANG JATENG, Suara Jelata LAZISMU Kota Magelang membutuhkan tenaga relawan untuk mendukung kesuksesan rancangan program yang telah ditetapkan. Dengan pendekatan Ushul Fiqh Maslahah Mursalah, LAZISMU Kota Magelang telah meluncurkan program Sekolah Relawan Siaga (SERASI) beberapa waktu lalu.

Diketahui Muhammadiyah mempunyai program OMOR (One Muhammadiyah One Response) pada saat terjadi bencana. Program OMOR merupakan program kolaborasi antara unsur yang ada di Muhammadiyah, yaitu MDMC dan LAZISMU.

Scroll untuk lanjut membaca
Scroll untuk lanjut membaca

Terkait SERASI LAZISMU Kota Magelang ini, sejumlah mahasiswi Program Studi Hukum Ekonomi Syariah UNIMMA ingin mengetahui lebih dalam. Kemudian melakukan wawancara dengan narasumber dari seorang Relawan SERASI, Valerian Efza, Sabtu (08/06/2024).

Para mahasiswi itu adalah anggota Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Riset Sosial Humaniora. Mereka adalah Indriana Chrisna Shavitri (Ketua Kelompok), Putri Sabrina (Anggota 1), Vega Natasya (Anggota 2), Asy-syifa Salsabilla (Anggota 3), dan Afifah Nur Azizah (Anggota 4).

LAZISMU Kota Magelang merupakan bagian dari Gerakan Muhammadiyah mempunyai andil yang besar dalam setiap program yang berkaitan dengan penanggulangan kebencanaan. Dengan pendekatan Ushul Fiqh Maslahah Mursalah, LAZISMU Kota Magelang meluncurkan program Sekolah Relawan Siaga (SERASI) pada tahun 2019 lalu.

Relawan SERASI dan MCM (Majelis Cabang Muhammadiyah), Valerian Efza menuturkan program SERASI ini didasarkan pada roadmap pencapaian milestone dengan tema besar “Lebih Mendekat dan Bersahabat”.

“Program ini dibuat karena Kota Magelang merupakan salah satu daerah penyangga bencana, karena dikelilingi daerah rawan bencana,” tuturnya, Sabtu (08/06/2024).

Diterangkan Efza, SERASI merupakan sekolah bagi relawan muda yang mau berkontribusi menyokong kegiatan-kegiatan sosial kemanusiaan melalui LAZISMU Kota Magelang. Kata relawan memiliki makna yaitu siap derma dengan kemampuan non fisik dan siap berjuang dengan kemampuan tenaga fisik yang dibalut semangat berbakti dan mengabdi untuk tugas-tugas sosial kemanusiaan.

“Sehingga kata relawan siaga selalu padu padan, beriringan, dan tidak dapat dipisahkan maknanya. Relawan Siaga juga mendapatkan pendidikan dan pembekalan materi tentang mitigasi kebencanaan,” terang Efza.

Dengan pembekalan tersebut, SERASI telah menghasilkan relawan muda berkarakter humanis, taft, dan religius. Serta siap untuk mendukung berbagai program kemanusiaan LAZISMU Kota Magelang.

Diterangkan Efza lebih dalam, SERASI didirikan melalui LAZISMU Kota Magelang pada tahun 2018. Sekolah ini memberikan pembekalan layanan edukasi, layanan sosial, Diksar KOKAM, TOT Islamic Traumatic Healing.

SERASI pada angkatan pertama diikuti oleh 47 peserta yang terdiri dari 7 orang perwakilan mahasiswa, 19 orang perwakilan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, 6 orang perwakilan Pemuda Muhammadiyah. Serta 3 orang perwakilan pelajar, 2 orang perwakilan umum, dan 10 orang perwakilan dari Angkatan Muda Muhammadiyah Tembarak, Kabupaten Temanggung.

Waktu itu, ungkap Efza, dengan mengangkat tema ‘Sinergi Jiwa Muda untuk Derap Langkah Berkemajuan’, LAZISMU Kota Magelang menggandeng Angkatan Muda Muhammadiyah dalam menyelenggarakan SERASI.

Output adanya kegiatan SERASI pada angkatan pertama berlanjut ke SERASI angkatan kedua yang diikuti 36 peserta terdiri dari 5 orang anggota mahasiswa, 4 orang perwakilan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, 7 orang perwakilan PD IPM, 16 orang perwakilan pelajar, dan 4 orang perwakilan umum. Dilaksanakan pada Jum’at sampai Ahad tanggal 19-21 April 2019, pukul 07.00 WIB-selesai, bertempat di Lapangan Ngasinan, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. Kegiatan dengan mengusung tema ‘Mencetak Kader Relawan Berkarakter Persyarikatan’,” terang Efza.

Kegiatan ini juga bertujuan untuk membentuk Komunitas Relawan Siaga Muhammadiyah Kota Magelang, mewujudkan relawan yang siap untuk menjadi kader persyarikatan. Serta memiliki jiwa relawan yang tanggap terhadap bencana alam dan sosial, serta meningkatkan rasa sosial dan religius untuk menjadi relawan siaga.

Menurut Efza, hal ini juga didukung dengan adanya psikososial yaitu pemberian bantuan terkait aspek psikologis dan sosial dalam lingkungan, di mana individu dan masyarakat yang berada. Tujuan dukungan psikologis untuk mengembalikan trauma individu, keluarga, dan masyarakat setelah peristiwa bencana terjadi.

“Adapun manfaat yang diambil yaitu mengurangi beban emosi, mengembalikan fungsi sosial individu di dalam lingkungan, meningkatkan kemampuan individu di dalam pemecahan masalah yang dihadapi pasca bencana,” ujarnya.

Program SERASI menggunakan dua sumber dana yaitu penggalangan donasi dari masyarakat dan dari donatur. Pertimbangan penggunaan dana kemanusiaan di LAZISMU Kota Magelang yang seharusnya untuk korban bencana dialihkan menjadi untuk penyelenggaraan Sekolah Relawan Siaga (SERASI) adalah Maslahah Mursalah.

“Yaitu kemaslahatan yang keberadaannya tidak didukung syara’ (hukum agama) dan tidak pula dibatalkan atau ditolak syara’ melalui dalil-dalil yang rinci. Kemaslahatan dalam bentuk ini terbagi atas dua yaitu Maslahah al-ghariban dan Maslahah al-mursalah. Maslahah al-ghariban, yaitu kemaslahatan yang asing atau kemaslahatan yang sama sekali tidak ada dukungan dari syara’. Sedangkan Maslahah al-mursalah, kemaslahatan yang tidak didukung oleh sekumpulan makna nash (ayat dan hadist),” jelas Valerian Efza.

“Jadi tidak hanya di kegiatan LAZISMU saja, kita juga menjadi salah satu penggerak pionir Angkatan Muda Muhammadiyah pada waktu itu. Pengurus-Pengurus Muhammadiyah Kota Magelang khususnya itu berpikir bahwasanya kaderisasi Kota Magelang itu minim sekali. Jadi di relawan SERASI inilah kegiatan untuk menjalankan dakwah di Muhammadiyah Kota Magelang khususnya pada waktu itu,” ungkapnya.

Di akhir penuturannya, Valerian Efza mengatakan sekolah relawan siaga itu identik dengan orang-orang yang memberi pertolongan dalam kejadian bencana.

“Maka ketika terjadi bencana seringkali kita melibatkan juga para relawan kita. Meskipun itu tidak di Kota Magelang sendiri. Misalnya, pada waktu itu pernah terjadi angin puting beliung di wilayah Pakis, kemudian banjir longsor di Salamkanci Kecamatan Bandongan semua di Kabupaten Magelang,” pungkasnya. (Nar)