News

Baterai Mobil Listrik Eropa Diisi Dengan Air Mata Petani dan Nelayan Halmahera

×

Baterai Mobil Listrik Eropa Diisi Dengan Air Mata Petani dan Nelayan Halmahera

Sebarkan artikel ini
Dr. Ir. Muhammad Assagaf, M.Si. (foto: dok. Pribadi)

Suara Jelata Di showroom mewah Berlin, Amsterdam, London dan Paris, mobil listrik dipajang sebagai simbol masa depan hijau, nol emisi, ramah lingkungan, penyelamat planet. Konsumen Eropa membelinya dengan perasaan mulia: mereka sedang menyelamatkan bumi. Namun, jarang sekali mereka bertanya: “Dari mana nikel dalam baterai mobil itu berasal, dan siapa yang membayar harganya?”

Jawabannya ada di Halmahera Maluku Utara, ribuan kilometer dari Eropa, di mana petani kehilangan kebun, nelayan kehilangan laut, dan anak-anak tumbuh kerdil di atas tanah yang menyimpan kekayaan triliunan rupiah.

Scroll untuk lanjut membaca
Scroll untuk lanjut membaca

Halmahera: Tambang Nikel Terbesar, Penderitaan Terdalam

Indonesia menguasai hampir separuh cadangan nikel dunia, dan Maluku Utara menjadi episentrumnya. Kawasan Industri Weda Bay (IWIP) di Halmahera Tengah kini menjadi salah satu kompleks pengolahan nikel terbesar di dunia, dengan investasi mencapai puluhan miliar dolar. Di Pulau Obi, Halmahera Selatan, operasi tambang open-pit telah mengubah lanskap hijau menjadi hamparan tanah merah yang terlihat jelas dari citra satelit. Data Global Forest Watch mencatat Maluku Utara kehilangan tutupan hutan dalam skala signifikan sepanjang dekade terakhir, sebagian besar terkonsentrasi di wilayah konsesi tambang. Pemerintah menyebutnya hilirasi, investasi, dan kemajuan. Masyarakat lokal menyebutnya perampasan.

Petani Tanpa Tanah, Nelayan Tanpa Laut

Di balik angka investasi yang megah, realitas di lapangan berbicara lain. Lahan-lahan yang dulunya ditanami cengkeh, kelapa, pala, dan sagu komoditas yang menghidupi keluarga selama generasi kini rata dengan tanah, diganti lubang-lubang tambang. Petani yang kehilangan lahan tidak serta-merta terserap menjadi pekerja tambang. Sebagian besar posisi teknis dan manajerial diisi tenaga kerja dari luar Maluku Utara, bahkan dari luar negeri. Masyarakat lokal, jika beruntung, hanya menjadi buruh harian dengan kontrak jangka pendek.

Nelayan bernasib sama tragisnya. Sedimentasi dari run-off tambang mencemari perairan pesisir, merusak terumbu karang, dan mengusir ikan dari wilayah tangkap tradisional. Nelayan harus melaut lebih jauh dengan biaya lebih besar, sementara hasil tangkapan terus menurun. Di beberapa kampung pesisir Halmahera, warga melaporkan air laut yang dulunya jernih kini berwarna keruh kemerahan warna tanah nikel yang terbawa hujan ke laut.

Kaya Nikel, Impor Beras

Ironi paling menyakitkan: Maluku Utara mengekspor nikel ke seluruh dunia, tetapi mengimpor hampir seluruh kebutuhan pangan pokoknya. Beras didatangkan dari Sulawesi dan Jawa. Sayuran, daging, dan telur dikirim melalui jalur laut yang mahal dan tidak menentu. BPS secara konsisten mencatat inflasi pangan di Maluku Utara berada di atas rata-rata nasional. Prevalensi stunting di beberapa kabupaten juga masih tinggi, anak-anak tumbuh pendek dan kekurangan gizi di atas tanah yang menghasilkan bahan baku industri bernilai tertinggi di dunia.

Setiap hektar hutan sagu yang ditebang untuk tambang adalah satu hektar sumber pangan lokal yang hilang selamanya. Sagu yang merupakan pangan pokok tradisional Maluku Utara yang tumbuh tanpa perlu ditanam ulang, dikorbankan demi logam yang akan berakhir di pabrik baterai Tiongkok dan mobil listrik Eropa.

Kemunafikan Transisi Energi

Inilah kemunafikan terbesar abad ini: transisi energi global yang diklaim hijau dan berkeadilan ternyata dibangun di atas ketidakadilan yang sama dengan industri fosil yang ingin digantikannya. Pola eksploitasinya identik sumber daya dikeruk dari negara berkembang, keuntungan mengalir ke korporasi global, kerusakan lingkungan dan sosial ditinggalkan untuk masyarakat lokal.

Uni Eropa yang bangga dengan regulasi Carbon Border Adjustment Mechanism dan standar ESG seharusnya tidak berhenti menghitung emisi karbon di pabrik otomotifnya. Mereka harus melihat ke Halmahera ke kebun yang hilang, laut yang tercemar, dan anak-anak yang kekurangan gizi.

Transisi energi yang adil bukan sekadar mengganti bensin dengan baterai. Ia menuntut pertanggungjawaban penuh atas seluruh rantai pasok dari tambang hingga showroom. Selama itu belum terjadi, setiap mobil listrik yang meluncur mulus di jalanan Eropa akan tetap membawa satu pertanyaan yang tidak nyaman:

Berapa banyak air mata petani dan nelayan Halmahera yang mengalir dalam baterainya? (*)

Penulis:
Dr. Ir. Muhammad Assagaf, M.Si