BREBES JATENG, Suara Jelata – Warga Desa Karangbale, mengeluhkan terhentinya pasokan air PDAM Tirta Baribis selama 11 hari terakhir yang memaksa mereka merogoh kocek ekstra demi kebutuhan dasar di tengah tagihan bulanan yang tetap berjalan.
Prahara air bersih menghantam wilayah RW 01 Desa Karangbale, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes. Sejak Rabu (18/3) hingga Sabtu (28/3), ribuan warga terpaksa gigit jari karena aliran air dari PDAM Tirta Baribis unit Larangan mati total.
Bagi warga, ini bukan sekadar gangguan teknis biasa, melainkan beban finansial dan fisik yang menguras energi.
Kondisi di lapangan menunjukkan pemandangan kontras. Di satu sisi, pipa-pipa PDAM membisu, namun di sisi lain, warga sibuk menenteng galon dan ember hasil membeli air eceran.
Kebutuhan dasar mulai dari mandi hingga memasak kini harus dibayar dua kali lipat: melalui tagihan rutin bulanan dan biaya tambahan untuk air jeriken.
Asep, warga RW 04, menceritakan betapa frustrasinya menunggu tetesan air. Masalah ini sebenarnya sudah dirasakan sejak sebelum Lebaran.
“Sebelum Lebaran air tidak mengalir. Kalau tengah malam pun mengalir kecil banget, untuk mendapatkan satu ember saja lama,” tuturnya pada Jumat (27/3/2026).
Baginya, tidur nyenyak menjadi kemewahan karena harus terjaga menunggu air yang tak kunjung menderas.
Senada dengan Asep, Fajar Rizki mengungkapkan bahwa ‘tradisi’ air macet ini seolah menjadi agenda tahunan yang tak kunjung tuntas.
Ia mengingat betul bagaimana Lebaran 2025 juga diwarnai dengan persoalan yang sama. Namun, gangguan kali ini dirasa paling parah.
“Kalau sebelumnya paling dua sampai lima hari. Tapi yang sekarang sudah sepuluh harian air mati total tidak mengalir,” keluh Fajar.
Merespons jeritan warga, manajemen pusat Perumda Air Minum Tirta Baribis akhirnya angkat bicara.
Melalui Kepala Bagian Teknik, pihak PDAM mengakui ada anomali dalam distribusi.
Secara matematis, produksi air di unit Larangan mencapai 18,5 liter per detik untuk 1.788 sambungan rumah, sebuah angka yang seharusnya lebih dari cukup untuk menjaga kestabilan pasokan.
Namun, realita di ujung pipa warga berbanding terbalik dengan data teknis tersebut.
PDAM pun menginstruksikan pimpinan unit Larangan untuk segera melakukan serapan kajian teknis di lapangan.
“Pimpinan Unit harus segera bergerak agar kelebihan produksi air dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh pelanggan,” tegas Kabag Teknik.
Pihaknya berjanji akan turun langsung mengevaluasi jaringan transmisi distribusi guna memitigasi kebocoran atau sumbatan yang menjadi biang kerok krisis ini. (Olam).











