SINJAI, Suara Jelata— Sebuah kapal nelayan, KM Permata Indah asal Desa Panaikang, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan mengalami kecelakaan laut.
Kapal nelayan tersebut mengalami kecelakaan laut pada pukul 19.30 Wita pada, Minggu (6/9/2021) kemarin.
KM Permata Indah mengalami kecelakaan laut di laut perbatasan Sinjai dan Kabupaten Bulukumba, tepatnya di Passilolisang.
” Kapal kami tenggelam saat berlayar di Passilolisang,” kata pemilik kapal Mansur, Selasa (7/9/2021).
Dijelaskan bahwa awalnya kapalnya sedang berlayar dari Pulau Kayuadi, Kabupaten Kepulauan, Selayar.
Nelayan tersebut mengangkut ikan ekspor dan ikan lokal tujuan Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Lappa, Kecamatan Sinjai Utara.
Namun di tengah perjalanan, tepatnya di Passilolisang dihantam badai.
Aplikasi GPS KM Permata Indah saat melintas di laut Passilolisang tiba-tiba mati tidak berfungsi.
Tak lama kemudian datang badai, angin kencang disertai hujan lebat.
Kapal menabrak karang malam itu. Satu jam kemudian gelombang tinggi mulai menghantam badan kapal.
Jelang pukul 00.00 Wita, kapal mulai hancur dan sebagian badan kapal mulai tenggelam.
Sebelum hancur, lima penumpang asal Kayuadi, Selayar tujuan Tanaberu, Bulukumba dievakuasi dari kapal tersebut oleh nelayan sekitar.
Sebelum dievakuasi lima orang penumpang sempat mengapung dengan menggunakan pelampung gabus yang berada di kapal KM Permata Indah.
Saat para penumpang sudah diselamatkan oleh nelayan lain, sang pemilik kapal Mansur bersama tiga anak buahnya yang bernama Sila, Aco dan Basri tidak langsung meninggalkan KM Permata Indah.
” Kami bersama ABK baru tinggalkan kapal saat badan sudah tenggelam semua,” kata Mansur.
Selanjutnya, Mansur berama ABK kapalnya dijemput oleh nelayan asal Desa Pattongko.
Mansur bersama ABK dan lima orang penumpang lainnya yang ikut di kapalnya selamat tiba di Sinjai malam ini.
Sementara kapal bersama sembilan ton ikan mereka tidak dapat ia selamatkan.
Kini Mansur merugi karena kehilangan kapal dan ikan yang siap dikirim ke Makassar dengan total kerugian sebesar Rp 250 juta.
Ia berharap kepada pemerintah di Sinjai untuk ikut membantunya, sebab saat ini mereka sedang kehilangan mata pencaharian.











