NewsOpini

Peran Orang Tua, Membumikan Budaya Didik

×

Peran Orang Tua, Membumikan Budaya Didik

Sebarkan artikel ini

OPINI, Suara Jelata— Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan besar. Indonesia adalah Negara yang memiliki potensi dan kapasitas yang menentukan tatanan dunia dengan segala potensi dan kekuatan dalam jangka waktu 15 sampai 20 tahun ke depan. tantangan tersebut merupakan ujian berat yang harus dilalui dan dipersiapkan oleh seluruh bangsa Indonesia.

Kunci sukses dalam menghadapi tantangan yaitu terletak pada kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang handal dan berbudaya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas SDM sejak dini merupakan hal penting yang harus ditingkatkan secara sungguh-sungguh.

Scroll untuk lanjut membaca
Scroll untuk lanjut membaca

Membumikan budaya didik merupakan aspek yang sangat penting dalam peningkatan sumber daya manusia.

Keluarga adalah lingkungan terdekat yang berperan besar dalam membumikan budaya didik pada anak-anak didik. Sebab, rumah tangga adalah wahana pendidikan pertama bagi anak. Dan keluarga adalah basis utama pembentukan kepribadian anak, setelah itu barulah sekolah dan lingkungan bermain yang berperan. Oleh karena itu, Abi dan Ummilah yang paling bertanggung jawab atas pemeliharaan iman dan akhlak anak.

Teringat dengan sebuah sinetron “ Keluarga Cemara” yang ditayangkan oleh RCTI dan Trans 7. Sinetron yang disutradarai oleh Atmowiloto. Sebuah kisah yang menceritakan tentang sebuah keluarga yang gigih memperjuangankan keluarganya. Dimana suatu ketika abah terkena PHK. Rumah mereka disita.

Keluaraga mereka pun jatuh miskin. Mereka harus tinggal di sebuah desa yang terletak di sukabumi, jawa barat. Abah menghidupi keluarganya sebagai tukang becak. Emmak ikut menopang ekonomi keluarga dengan cara menjual opak. Euis, Ara dan Agil membantu emmak menjajankan opak.

Sebuah keluarga yang kehidupannya di lilit oleh kemiskinan. Kemiskinan bisa membuat orang tua tak mampu menemukan prioritas hidup dan kemiskinan mampu membuat hubungan antarapribadi anggota keluarga retak dan pecah berkeping-keping.

Tapi tidak untuk keluarga cemara. Walaupun angin kencang kehidupan kemiskinan meliliti keluarga cemara tapi abah dan emmak selalu membangun kontak komunikasi yang lugas, tulus, terbuka, rendah hati, tiada prasangka, dan tanpa pretensi apa-apa. Kontak dan komunikasi macam itu merupakan buah dari pengalaman iman keluarga.

Dengan demikian pelajaran yang berharga yang dapat dipetik dari kisah ini adalah keterbatasan yang di miliki keluarga semestinya bukanlah penghalang bagi terciptanya kebahagian keluarga. Kebahagian keluarga pertama-tama ditentukan oleh rasa aman dari kedua orang tua yang membumikan budaya didik pada stacholder keluarga dengan menjadikan suasana rumah menjadi tempat yang dapat mengalirkan getaran rasa aman bagi semua anggota keluarga.

Budaya Didik Orang Tua

Pendidikan anak-anak sekarang memiliki tantangan besar. Apalagi arus globalisasi, teknologi informasi dan komunikasi tengah mengancam. Sebab, banyak orang tua yang mengira bahwa mereka telah memberikan sarana dan prasarana bagi anak-anaknya. Sehingga rumahnya dilengkapi dengan sarana teknologi modern seperti kendaraan bermotor, televisi, vidio, internet, telepon genggam (HP), iped, leptop dan sarana lainnya. Ini memang wajar karena tuntutan zaman, akan tetapi kalau tidak ada pengontrolan maka akan bisa jadi boomerang.

Ketika orang tua sibuk bekerja, anak di rumah menikmati segala fasilitas yang lengkap, kalau tidak ada pengontrolan? Tentu hal ini bisa menjadi bahaya buat iman dan akhlaknya. Banyak tayangan-tayangan yang sudah sangat mempengaruhi jiwa anak-anak indonesia.

Lihatlah dampaknya mulai dari cara berpakaian, berpenampilan, pergaulan, kegemaran dan sopan santun. Sudah jauh dari tuntunan hidup islami. Apa penyebabnya karena menu sehari-hari anak-anak adalah hal-hal yang berbau non islami. Mereka tidak mengenal tokoh teladan Rasulullah Saw, Para Sahabat dan Keluarga beliau. Bahkan, para pahlawan nasional pun barangkali mereka tidak mengenalnya. Yang mereka kenal mungkin Boy band, Artis terkenal dan Girls Band.

Anak-anak tidak terlalu membutuhkan perintah dan larangan. Yang paling penting di butuhkan anak-anak adalah teladan dari segala yang orang tua ucapkan dan ajarkan. Ada sebuah kisah yang lucu yang pernah saya dapatkan. Ada seorang ibu yang mengantarkan anaknya pergi mengaji.

Dia tidak memakai jilbab. dan dia suruh anaknya memakai jilbab. anaknya menolak karena ibunya juga tidak memakai jilbab. ibunya memarahi kesalahan anaknya dengan melontarkan bahasa-bahasa yang kotor dan disertai pukulan. Ini sangat jelas sebuah tindakan yang sangat jauh dari nilai-nilai pendidikan. Ini sebuah kenyataan yang memprihatinkan. Tapi, itulah kenyataan terkini yang harus di hadapi dan di tanggapi secara cerdas oleh kita semua.

Sudah saatnya membumikan budaya didik dengan menciptakan lingkungan yang bersih, tentram, aman dan agamis dengan meneladani pola hidup Rasulullah SAW dan keluarganya. Sebagaimana sabdanya, “ Didiklah anak-anakmu dengan tiga perkara: mencintai Nabinya ( Nabi Muhammad SAW) : mencintai Keluarga Nabi: Tilawah (membaca dan memahami Al-qur’an). ( H.R. Muslim).

Penulis: Mahyuddin S.Pd, Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 17 Sinjai