OPINI: Ramadhan, Pandemi dan Momentum Idul Fitri dalam Intropeksi Diri

  • Whatsapp
Hanafi

 

OPINI, Suara Jelata— Ibadah puasa di bulan Ramadhan merupakan ibadah wajib bagi umat Islam. Ibadah puasa yang terdapat dalam rukun Islam ke-4 ini merupakan ibadah wajib yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.Tentunya menjadi momentum bagi umat Islam dalam memperoleh keberkahan yang sifatnya berlipat ganda pahalanya di bulan Ramadhan. Sebab, berdasarkan rujukan yang diriwayatkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah di Lathaif Al-Ma’arif mengatakan, “Sebagaimana pahala amalan lainnya, maka puasa di bulan Ramadhan lebih berlipat pahalanya dibanding di bulan lainnya. Ini semua bisa terjadi karena mulianya bulan Ramadhan dan puasa yang dilakukan adalah puasa yang diwajibkan oleh Allah pada hamba-nya”.

Bacaan Lainnya

Allah pun menjadikan puasa di bulan Ramadhan sebagai bagian rukun Islam, tiang penegak Islam’.

Sementara Nabi bersabda, ‘Allah Taala berfirman, ‘’Kecuali amalan puasa, amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasanya. Disebabkan dia telah meningalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rab-Nya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kasturi,’’ (H.R. Bukhari).

Dua landasan pesan moral teologi tersebut menjadi konsumsi dan inspirasi bagi umat Islam dalam berlomba-lomba meningkatkan amal dan ibadah kepada Allah Taala.

Tak heran, ketika bulan Ramadhan tiba, masyarakat antusias dalam melangsungkan ibadah, baik ibadah dimensi spiritual secara vertikal seperti shalat berjamaah di masjid maupun dimensi sosial secara horizontal yang bermanfaat terhadap sesama, seperti bagi-bagi sembako, maupun sedekah-sedekah lainnya yang sifatnya sangat membantu masyarakat.

Fenomena tersebut merupakan implikasi pesan-pesan moral dari doktrin agama terhadap para penganutnya, sehingga nilai produktif di bulan Ramadhan akan ditingkatkan.

Tentunya ibadah puasa secara ritual yang diiringi dengan sisi sosial akan memberikan kondisi perubahan bagi masyarakat. Sebab, definisi puasa tidak sesempit menahan lapar dan haus, tetapi menahan segala kemungkaran sifat hewani yang melekat terhadap diri manusia, menciptakan suatu perubahan di tengah masyarakat yang sangat memberikan perhatian untuk kita tolong.

Katakanlah, kaum marginal secara ekonomi, sehingga masyarakat akan disadarkan dengan pesan moral agama, bagaimana menolong sesama yang sangat membutuhkan untuk dapat diberdayakan.

Pada prinsipnya, bulan puasa merupakan momen bagi umat Islam untuk berlomba-lomba dalam meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Sehingga dalam menyambut bulan setelah ibadah puasa, yakni menyambut hari kemenangan perayaan Idul Fitri akan mencipatakan gambaran representasi sejauh mana kita mampu meraih kemenangan.

Sebab, perayaan Idul Fitri hanya akan dapat dirasakan oleh umat Islam yang selama di bulan Ramadhan berikhtiar dengan sepenuh hati dan segenap jiwa dalam mentaati segala perintah-Nya. Semakin taat seorang hamba dan memperbanyak amal ibadah, maka akan semakin dekat dengan perayaan kemenangan.

Meskipun pada esensinya tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, akan tetapi sejauh mana seorang hamba dalam berikhtiar untuk meraih kemenangan di Idul Fitri dengan ketakwaan. Perayaan Idul Fitri yang merupakan berakhirnya waktu bulan Ramadhan memiliki makna sendiri bagi umat Islam.

Idul Fitri juga memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai, yakni manusia bertakwa. Kata Id berdasar dari kata aada-yauudu yang artinya kembali. Sementara fitri bisa berarti berarti suci dari segala dosa.

Hadist berbunyi, “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (Mmuttafaq ‘alayh).

Tentunya perayaan Idul Fitri akan disambut suka cita oleh umat Islam, meskipun disisi lain ada perasaan sedih karena sudah ditinggal oleh bulan Ramadhan, yang tentu bulan Ramadhan berikutnya tidak ada yang tahu kita masih bisa bersua atau tidak.

Meski pada perayaan Idul Fitri tampak serasa berbeda dengan perayaan Idul Fitri sebelum-sebelumnya, terutama sebelum adanya pandemi Covid-19, namun tidak mengurangi rasa syukur dan semangat umat Islam untuk meraih esensi Idul Fitri ini.

Perubahan pola adaptasi baru di kehidupan sosial sangat dirasakan pada perayaan Idul Fitri 2021 ini, dimana dimulai dari aturan larangan mudik, larangan takbir keliling, berkerumunan, maupun membatasi jarak dalam berinteraksi sosial, tidak lain merupakan ikhtiar yang termasuk ibadah dalam melawan pandemi Covid-19.

Umat Islam pada khususnya harus bersatu untuk memerangi Covid-19, sebab Islam tidak mengajarkan berperilaku ganda, artinya satu sisi berperilaku baik tapi disisi lain menimbulkan mudharat dengan perilaku yang kita lakukan.

Maka pentingnya pula mentaati protokol Covid-19 maupun kebijakan pemerintah, serta fatwa MUI seperti panduan ketika melangsungkan ibadah shalat Id, baik yang di masjid atau lapangan, maupun di rumahnya masing-masing.

Spirit aktualisasi ketika kebiasaan kebaikan di bulan Ramadhan menjadi tantangan besar sendiri oleh umat Islam. Sebab jika kebiasaan beribadah di bulan Ramadhan, seketika kebiasaan setelah di bulan Ramadhan tersebut terutama dalam beribadah luntur seketika, maka tentu harus banyak yang dipertanyakan terhadap diri masing-masing.

Hal demikian menjadi intropeksi diri bagi kita bersama sejauh mana kita mampu merefleksikan kebiasaan amal kebaikan yang meningkat di bulan Ramadhan, agar mampu dipertahankan bahkan menjadi dua kali lipat semangat dalam beribadah setelah Ramadhan dan perayaan Idul Fitri ini.

Di tengah kondisi akibat pandemi Covid-19 yang memberikan perubahan baru dalam dimensi sosial maupun segala aspek dimensi lainnya, seperti ekonomi, hukum, pendidikan menjadi ujian sendiri bagi bangsa Indonesia dalam melewati segala problematika yang terjadi.

Untuk itulah perayaan Idul Fitri bagi umat Islam di tahun 2021 menjadi kesempatan besar untuk mengejawantahkan baik spirit rohani dalam ritual maupun spirit kemanusiaan dalam sosial.

Karena pada prinsipnya, Ir. Soekarno mengatakan bangsa yang dikatakan besar bukan bangsa yang hanya terdapat banyak pendudukanya, tetapi bangsa yang berani dalam melakukan kebaikan, karena apabila terdapat di diri seseorang rasa malu dan takut untuk berbuat kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut tidak akan mengalami kemajuan selangkah pun.

Di kesempatan Idul Fitri ini dalam kondisi pandemi Covid-19 adalah refleksi secara kritis untuk kita bersama, meski bulan Ramadhan sudah meninggalkan kita menuju hari kemenangan yakni Idul Fitri, namun semangat pembaruan demi pembaruan dalam merekontruksi pola pikir dan perilaku yang kita serap di bulan Ramadhan menjadi indikator sendiri untuk berikhtiar menuju kemenangan.

Meskipun esensinya kita masih belum menang, karena masih dihantui dengan wabah penyakit pandemi Covid-19 maupun segala problematika lainnya, baik dosa-dosa yang kita lakukan maupun bisa saja dosa secara kolektif yang dilakukan oleh kita bersama, sehingga bangsa kita tidak maju-maju dengan segala persoalan yang masih meliliti, seperti masalah HAM, korupsi, kemiskinan, pengangguran, maupun kemungkaran-kemungkaran lainnya menjadi momentum intropeksi diri untuk kita bersama di perayaan kemenangan Idul Fitri ini menuju masyarakat adil, makmur yang diridhoi oleh Allah SWT.

Selamat Idul Fitri tahun 2021, mohon maaf lahir dan batin.

Penulis: Hanafi, Mahasiswa Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial IAIN Madura

 

Tulisan tersebut diatas merupakan tanggung jawab penuh penulis

Penulis: Hanafi
Editor: Aisyah
  • Whatsapp
loading...