Kisah Andi Kartini Ottong, Biaya Kuliah Terbatas, Aktivis Yang Kini Jadi Wabup Sinjai

  • Whatsapp

SINJAI, Suara Jelata—Setiap manusia tentunya memperoleh rezeki juga kesuksesan, hanya saja kesuksesan tidak datang begitu saja. Juga diperlukan usaha, kerja keras, dengan berbekal ilmu dan pengalaman. Minggu, (23/5/2021).

Agar dapat melewati berbagai fase kehidupan utamanya, saat mengalami kesulitan juga masa setelah berkeluarga.

Bacaan Lainnya

Seperti halnya Wakil Bupati Sinjai, Hj. Andi Kartini Ottong, S.P,. M. SP, dibalik kesuksesaanya yakni, pernah menjadi anggota DPRD Kab. Sinjai, hingga akhirnya menjadi orang nomor dua di Kab. Sinjai sebagai Wakil Bupati Sinjai, nyatanya juga pernah diterpa penderitaan.

Dengan tampilan yang menunjukkan kesederhanaan, berbalut jilbab berwarna hitam, dihadapan media ini, Kamis (19/05/2021) Hj. Andi Kartini Ottong mulai menceritakan pengalaman hidupnya, hingga mampu seperti saat ini.

Kala menempuh pendidikan di bangku perkuliahan yakni, di UNHAS jurusan Pertanian yang awalnya hanya D3.

Masa-masa sulit itu mulai dirasakan karena, bersamaan saudara-saudaranya juga melanjutkan kuliah. Ditambah uang yang dikirimkan juga terbatas.

“Selama kuliah di Unhas, saya selalu naik Damri, setiap bulan saya selalu membeli karcis senilai Rp75 itu tahun 1991. Sekaligus, saya juga terkadang berjalan kaki ke luar sekitar 1 Km,” jelasnya.

Keadaan tersebut, nyatanya tidak mematahkan semangat Andi Kartini untuk tetap berkarya sekaligus, menapaki setiap organisasi selama kuliah.

“Selama kuliah, semua organisasi saya ikuti mulai dari, Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Sinjai (HIPPMAS), HMI, hingga ke tingkat himpunan juga senat. Olehnya itu, saya banyak mendapatkan pengalaman pada saat masuk organisasi,” tuturnya.

Tidak hanya itu, Hj. Andi Kartini selalu mengikuti seminar nasional. Mumpung di Unhas setiap hari Sabtu dan Ahad selalu menyelenggarakan seminar nasional, di mana Mahasiswa dapat memilih materi yang diinginkan.

“Waktu itu, ketika ingin menambah ilmu, harus ikut seminar karena, pada saat itu tidak ada Handphone, ditambah tampilan televisi berwarna hitam putih,” ungkapnya.

Lanjut cerita sambung Hj. Andi Kartini, sampai akhirnya dapat menjadi anggota dewan hingga saat ini menjabat sebagai wakil Bupati, Hj. Andi Kartini mengaku, semuanya itu adalah takdir.

“Selama menempuh pendidikan cita-cita saya ingin menjadi dosen, atau penyuluh. Sehingga apa yang saya jalani saat ini, itu adalah takdir,” ucapnya.

Apalagi ungkapnya sebelum menjabat menjadi anggota dewan, Hj. Andi Kartini sempat menjadi asisten dosen di Unhas.

Hanya saja, takdir berkata lain belum selesai masa studi kuliahnya, tiba-tiba Ia mengaku, dinikahkan oleh orang tuanya.

Setelah menikah, Andi Kartini lantas tidak berdiam diri di rumah, namun Ia memanfaatkan ilmu yang didapatkan yakni, menjadi konsultan.

Karena, meskipun sudah menikah dan memiliki anak, Ia mengungkapkan, suaminya selalu mendorong karirnya, waktu itu ingin menjadi konsultan sehingga, mendaftar dan akhirnya lolos.

“Apalagi, sebenarnya saya bukan termasuk orang yang suka berdiam diri di rumah, ditambah setelah menikah teman-teman selalu mempengaruhi agar tetap melakukan aktivitas di luar, meskipun telah menikah,” ujarnya.

Olehnya itu, meskipun telah memiliki tanggung jawab yakni, mengurus anak juga suami sekaligus menyandang status IRT, di tengah aktivitas pekerjaannya.

Andi Kartini berusaha untuk tidak pernah mengeluh, utamanya di depan suami. Karena, itu sudah menjadi pilihan hidupnya, sehingga tetap harus dijalankan dengan ikhlas.

Hj. Andi Kartini mengatakan, tantangannya setelah menikah kemudian berkarir di luar adalah di samping harus merawat anak, mengurus suami, juga disatu sisi ada tanggung jawab pekerjaan yang harus dijalankan.

“Kesibukan tersebut yang terus menantang saya untuk terjun langsung di Masyarakat, bersentuhan langsung. Karena, sebenarnya itu bukan hanya mementingkan diri sendiri akan tetapi juga ikut berbuat banyak untuk sekitar. Setelah saya jalani, saya baru rasakan ternyata saya bisa membagi waktu antara pekerjaan dan menjadi ibu rumah tanggga,” ungkapnya.

Hj. Andi. Kartini tidak memungkiri, kemampuan mengurus rumah tangga juga memperoleh amanah sebagai anggota dewan hingga akhirnya menjabat sebagai wakil bupati, diperoleh pada saat terjun di organisasi,

Menurut Hj. Andi. Kartini, di organisasi sebenarnya kemampuan seseorang itu digenjot, mulai dari mengatur waktu, belajar berteman, bagaimana mengatur ego. Apalagi, pada saat masa-masa mahasiswa pasti terkadang ego lebih dominan.

“Semuanya itu merupakan tempat untuk belajar, karena menjalin pertemanan juga cukup sulit yakni, membutuhkan sikap saling memahami dan tidak mementingkan ego,” katanya.

Selain itu, di dalam mencapai kesuksesannya saat ini, Ia juga banyak belajar dari biografi tokoh-tokoh sukses.

“Di samping itu, yang paling penting adalah ibadah juga harus kuat, karena pertolongan Allah Insya Allah selalu ada,” kuncinya.

loading...