Catatan Jelang Pameran “Mata Air Bangsa” di OHD Museum Magelang

Leaflet Pameran Mata Air Bangsa (sumber: OHD Museum).

Suara Jelata – Pada tanggal 30 Juli 2022 mendatang bakal digelar Pameran Seni Rupa di OHD Museum, Jalan Jenggola 14 Kota Magelang. Pameran seni rupa kali ini secara khusus didedikasikan untuk dua orang Guru Bangsa, yaitu K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Prof. Dr. Syafii Maarif (Buya Syafii). Pameran bertajuk MATA AIR BANGSA – Persembahan untuk Gus Dur dan Buya Syafii Maarif.

Pameran ini bermula dari sejumlah pertemuan dan percakapan dengan Gus Mus, Dr. Oei Hong Djien, Djoko Susilo, Alfi, Nasirun, dan Dr. Suwarno Wisetrotomo (Kurator Pameran). Mereka merespon artikel Buya Syafii Maarif “Pesan untuk Muhammadiyah dan NU” di harian Kompas tanggal 5 Januari 2021.

Topik percakapan sangat cair, antara lain soal situasi sosial yang selalu beririsan dengan politik, soal seni rupa, utamanya lukisan, kini dan nanti. Juga soal peran negara dan swasta terhadap kesenian, apa yang bisa diperankan oleh seniman. Percakapan terasa cair dan tentu diselingi sendau gurau.

Pada ujung percakapan, semacam kesepakatan, seni rupa harus ambil peran, sekecil apa pun, untuk menyuarakan harapan di tengah sengkarut persoalan. Maka jadilah ide, pameran seni rupa.

Sebelumnya, pada 2018, dengan awal yang sama, reriungan dan makan siang, jadilah peristiwa pameran bertajuk Manusia dan Kemanusiaan di OHD Museum. Ide berikutnya adalah pameran yang berisi pesan, “bagaimana menyuarakan keteladanan dari sosok dan tokoh tertentu”.  Pameran direncanakan dibuka pada 19 Agustus 2021.

Namun, karena sergapan virus pandemi Covid-19 dan variannya, maka terpaksa memundurkan pelaksanaan pameran. Ketika situasi pandemi mulai landai, para tokoh itu mulai kembali membicarakan untuk melaksanakan rencana pameran. Namun, peristiwa mengejutkan terjadi, Buya Syafii dipanggil pulang oleh Allah SWT, pada hari Jumat tanggal 27 Mei 2022, dalam usia 86 tahun.

Terasa benar ada yang rumpang.  Seperti halnya ketika 13 tahun lampau Gus Dur meninggalkan kita semua. Pada Rabu, 30 Desember 2009, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berpulang pada usia 69 tahun karena sakit.

Sang pemberani dan pembela mereka yang teraniaya secara sosial, politik, agama, dan sejenisnya, tidak lagi berada di tengah warga bangsa. Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah juga bangsa Indonesia kehilangan sosok Guru Bangsa yang mendedikasikan penuh hidupnya untuk persatuan, kesatuan, kerukunan berbangsa dan bernegara.

Perasaan rumpang itu, juga atas saran Gus Mus (K.H. A. Mustofa Bisri), pameran ini didedikasikan untuk dua orang Guru Bangsa yang sudah berpulang. Pameran ini akhirnya bertajuk “MATA AIR BANGSA – Persembahan untuk Gus Dur dan Buya Syafii”. Suatu “perayaan” terhadap “kehadiran” dua sosok penting dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara, Gus Dur dan Buya Syafii. Ya, kedua sosok ini memang selayaknya terus hadir dan dihadirkan, dan pameran ini salah satu upayanya.

Hasrat pameran ini, sesederhana dan sesubyektif apa pun, ikhtiar untuk menyuarakan keteladanan, mengolah pokok soal spesifik bagi dua sosok “mata air bangsa”: Gus Dur dan Buya Syafii. Karya-karya digubah dengan tafsir, demi memperkaya sekaligus ‘mengganggu’ penonton dalam memahami dan menempatkan tema sebagai pijakan untuk mengolah ikhwal “mata air” bagi bangsa ini.

Para perupa dalam pameran ini, dengan cara masing-masing mewujudkan semangat mewarisi apinya, bukan abunya”, sekaligus merayakan 25 tahun OHD Museum. Pameran temporer seperti kali ini, “dalam rangka persembahan untuk Gus Dur dan Buya Syafii”, dilengkapi oleh karya-karya koleksi OHD Museum. Yang mana memiliki sejarah panjang sekaligus bertautan dengan tema dan karya-karya baru.

Hal demikian ini sebagai peneguh, bahwa setiap karya memiliki potensi profetik, sekaligus konteks yang baru. Setiap karya seni juga berpotensi menyentuh, menggugah, dan menggerakkan siapa pun untuk mengambil bagian dalam proyek kemanusiaan dan kebangsaan.

Dalam Pameran “MATA AIR BANGSA” di OHD Museum Magelang nantinya akan memamerkan karya lebih dari 30 perupa dan seniman. antara lain K.H. A. Mustofa Bisri, Butet Kertaredjasa,  Goenawan Muhamad, Djoko Pekik, Heri Dono, dan lainnya. Pameran ini juga dibuka untuk umum mulai tanggal 31 Juli hingga 28 November 2022, mulai pukul 10.00 – 17.00 WIB. (Iwan)

Dapatkan update berita pilihan setiap hari dari suarajelata.com.

Mari bergabung di Grup Telegram "suarajelata.com News Update", caranya klik link https://t.me/suarajelatacomupdate, kemudian join.