DAERAHNews

Unik, Masyarakat Desa Gareccing Upacara HUT ke-77 RI di Tengah Sawah dengan Membawa Ternak

×

Unik, Masyarakat Desa Gareccing Upacara HUT ke-77 RI di Tengah Sawah dengan Membawa Ternak

Sebarkan artikel ini
Upacara HUT ke-77 RI dilakukan masyarakat Desa Gareccing di tengah sawah dengan menggunakan pakaian sehari-hari mereka sebagai petani

SINJAI, Suara Jelata— Masyarakat di Desa Gareccing, Kecamatan Sinjai Selatan, Kabupaten Sinjai memilih melakukan Upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 Republik Indonesia (RI) di tengah sawah. Rabu, (17/8/2022).

Ratusan petani bersama aparat desa setempat beserta tamu undangan dari daerah lain ikut dalam upacara tersebut.

Scroll untuk lanjut membaca
Scroll untuk lanjut membaca

Para bapak tani dan wanita tani menggunakan pakaian sehari-hari sebagai petani. Mereka juga membawa ternak sapinya masuk ke lokasi upacara.

Sapi mereka telah dihias dengan menggunakan pita warna merah putih yang dililit dibagian leher masing-masing ternak.

Selain masyarakat menggunakan pakaian tani, sebagian juga menggunakan pakaian adat Bugis, Makassar, Toraja dan Jawa.

Simbol tersebut menguatkan kebaragaman bersuku bangsa di daerah tersebut. Sebab penduduk di desa itu terdiri dari suku Bugis, Makassar, Toraja dan Jawa.

Mereka tampil klasik menggunakan pakaian petani tempo dulu. Beberapa petani lainnya ikut membawa peralatan pertanian mereka, seperti mesin rontok padi, cangkul dan parang.

Panitia upacara juga menyajikan sembilan kue tradisional di daerah itu.

“Kami memakai pakaian aktivitas sehari-hari petani dan kue tradisional untuk menjaga kearifan lokal,” kata Kepala Desa Gareccing, Irwan Parenrengi.

Lanjutnya, sedang sapi diiukutkan di lokasi upacara sebagai simbol bahwa Gareccing sebagai penghasil daging sapi. Selain itu, sapi juga merupakan investasi masyarakat setempat yang menjanjikan.

Dengan menampilkan sapi di upacara HUT RI sebagai upaya masyarakat Desa Gareccing mendukung pemerintah menguatkan pangan.

Mereka juga berharap ke pemerintah pusat dan daerah agar membantu petani di daerah itu untuk membentengi ternak sapi mereka dari virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang tengah mewabah saat ini. (*)