DAERAH

Sempat Jadi Sorotan, Ternyata Sapi Ternak Bumdes Jagalempeni yang Dipindahkan Kondisinya Makin Membaik

×

Sempat Jadi Sorotan, Ternyata Sapi Ternak Bumdes Jagalempeni yang Dipindahkan Kondisinya Makin Membaik

Sebarkan artikel ini

BREBES JATENG, Suara Jelata Pengurus Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Jagalempeni melalui salah seorang pengurusnya yakni, Amin Syarif merasa keberatan dengan adanya berita yang beredar yang menyatakan bahwa sapi-sapi tersebut hilang.

 

Scroll untuk lanjut membaca
Scroll untuk lanjut membaca

Pasalnya, sebagai pihak yang dimandati Kepala Desa untuk mengurus sapi melalui Bumdes ja sudah semaksimal mungkin memelihara sapi-sapi bantuan tersebut.

 

“Jadi, sapi-sapi itu masih ada. Bahkan ketika pihak dari Dirpermades datang kesini, kami sudah menunjukan,” kata Amin, Senin (14/8/2023).

Bahkan, menurut Amin, kondisi sapi-sapi itu lebih baik dari sebelumnya, yakni ketika masih di kandang yang lama. Adapun, sapi-sapi tersebut sengaja dipindah tempatkan karena rasa kekhawatiran dari kami.

 

“Kami khawati akan mengalami kerugian yang lebih besar, jika dipelihara oleh orang dan kandang yang sebelumnya, karena memang tidak ada perkembangan, bahkan sapi-sapi itu makin kurus seolah tidak terurus,” jelasnya.

 

Dijelaskannya, terkait pengakuan dari salah seorang pekerja pengurus sapi yang belum dibayar. Dengan tegas ia menyangkal.

 

“Itu tidak benar, kami selaku membayar dia tepat waktu dan saksinya juga banyak,” ujarnya.

 

Hal itu dibenarkan oleh Kepala Desa Jagalempeni, Ahmad Tajudin. Ia menyampaikan, bahwa terhitung 7 bulan sampai hari Raya Idul Adha kemarin. Berharap pihaknya bisa menjual sapi-sapi yang berjumlah 5 ekor tersebut dengan harga mahal.

 

“Ternyata, malah yang kita targetkan sekurang-kurangnya 70 juta dari 5 ekor sapi ternyata para bakul rata-rata menawar murah yaitu 30 juta paling mahal itu yang 5 ekor,” kata Tajudin.

 

Lantas, ia menelusuri apa sebabnya dan ternyata setelah ia konfirmasi ke manajer kandang, Jeni, didapat informasi ternyata dari pihak pemiara sudah lelah dan menyatakan ketidaksanggupannya.

 

Tak ayal lagi, dengan kordinasi bersama pihak Bumdes mereka bergegas mencari solusi untuk memecahkan masalah tersebut.

 

“Mungkin faktor lokasi, banyak juga isu-isu yang disampaikan masyarakat sekitar kandang, termasuk lokasinya yang berada di pinggir kali dan lain sebagainya. Dan itulah yang membuat sapi-sapi tersebut kurus dan tidak berkembang,” katanya.

 

Adapun, untuk mengatasi masalah tersebut, Bumdes lantas mencari orang yang biasa memelihara sapi. Tau seluk beluk dan didapatlah orang yang bersedia memelihara sapi (menggantikan yang lama red-).

 

“Namun, karena lokasi kandang berjauhan jaraknya dari rumah orang tersebut, ia meminta sapi-sapi tersebut dibawa dan dipelihara di rumahnya. Sekaligus untuk menjawab spekulasi faktor lokasi dan sebagainya, tapi yang pasti pemindahan itu melalui pertimbangan yang mau miara sapi. Biar terjaga,” beber Kades.

 

“Dan itu untuk sementara, jika nanti sudah puluhan sapi kita akan maksimalkan lagi kandangnya,” ujarnya.

 

Terkait dengan apa yang pernah disampaikan mantan-mantan pemelihara sapi-sapi itu, Tajudin menyebut, itu tidak sesuai dengan omongannya sendiri.

 

“Yang dia bilang tidak dibayar itu sama sekali tidak benar, malahan yang bersangkutan beberapa kali cash bon sama mas Jeni selaku penanggung jawab,” terangnya.

 

Kades menyebut, Bumdes dalam menangani peternakan sapi mengambil pola pengembangan. Dikatakannya, selaku penanggung jawab, Jeni kerap kali melakukan studi banding. (Olam)