Penyelamatan Seni Pertunjukan Tradisional

Opini
Tari klasik Sancaya Kusumawicitra dengan penari Rachel Harrison dan Dwi Anugrah. (foto: dok. Penulis)

Suara Jelata Malam bulan purnama begitu eksotis. Kabut tipis berarak berjalan pelan menyusuri lembah-lembah di lereng Gunung Merapi. Sayup-sayup di kejauhan terdengar bunyi gamelan bersahut-sahutan dengan irama mendayu-dayu.

Lapangan di pojok desa sudah banyak berkerumun penonton untuk menyaksikan pementasan wayang orang. Panggung dibuat layaknya proscenium (panggung berbentuk bingkai yang dapat dilihat dari sisi depan) lengkap dengan backdrop atau layar belakang yang nuansanya dapat diubah selaras dengan adegan yang sedang berlangsung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cahaya terang menyinari panggung dengan lighting sederhana, ditimpali dengan warna biru langit cerah latar panggung dengan lukisan angkasa tersebut menjadikan suasana semakin eksotis. Tak lama berselang muncul tokoh ksatria berbusana gemerlap dengan ornamen bintang di dadanya.

Tokoh tersebut dikenal dengan Gatutkaca, Raja Kerajaan Pringgondani, senapati para Pandawa. Dengan gerak ragam tari gagah, Gatutkaca menari mengisi ruangan seakan terbang menyusuri angkasa raya.

Gendhing Jawa dengan jenis sampak dibarengi suara kendhang menjadikan gerakan semakin kokoh dan membumi. Terlebih lagi, ketika Gatutkaca melakukan gerak terbang, melesat menyusuri batasan cakrawala yang menggetarkan, seakan meruntuhkan bintang-bintang di langit. Berkejapan menyusup di antara gumpalan mega sehingga membentuk konfigurasi estetis mengagumkan.

Sontak gumuruh tepuk tangan penonton tak terelakkan. Decak kagum keluar dari mulut mereka. Malam itu mereka mononton wayang orang dengan lakon Gatutkaca Krama. Suatu cerita yang sudah melegenda, mengisahkan perjuangan Gatutkaca untuk mendapatkan kekasih idamannya Endang Pregiwa. Pertunjukan yang menghibur masyarakat pada waktu itu sebagai pelepas lelah dari seharian kerjanya sebagai petani.

Lain lagi, di samping seni pertunjukan tanggapan, acara seni tradisional di televisi pun menjadi idola mereka. Dulu orang satu desa berbondong-bondong datang berkumpul di rumah Kepala Desa untuk menyaksikan siaran Kethoprak (teater tradisional) di televisi hitam putih kebanggaannya.

Beberapa cerita Kethoprak sebagai bentuk teater tradisional sangat mengesankan. Ada cerita Istana yang Suram oleh grup Kethoprak Among Mitro, cerita Mangir Wanabaya dengan grup Sapta Mandala, cerita Jambul Kramayudha oleh grup kenamaan PS Bayu, dan sederet cerita-cerita lain yang sangat kaya akan kandungan nilai humaniora.

Pagi harinya anak-anak seusia sekolah dasar ketika waktu istirahat bermain kethoprak-kethoprakan seolah-olah menirukan apa yang mereka saksikan semalam. Ada yang berperan sebagai tokoh antagonis atau protagonis juga tokoh prajurit. Mereka dengan penuh totalitas memerankan tokoh-tokoh tersebut sambil tak lupa memperagakan adegan perang yang menjadi kebanggaan mereka dengan penuh keceriaan.

Sementara itu bapak atau ibu gurunya diam-diam memperhatikan ulah mereka dari kejauhan sambil tersenyum. Ada sebersit kebanggaan dalam wajah mereka. Anak-anak didiknya secara tidak langsung sudah punya kepedulian untuk nguri-uri (melestarikan) kesenian tradisional Jawa yang adi luhung yang sarat akan pesan-pesan moral tersebut.

Panorama itu selalu ada di benak komunitas Jawa yang hidup di perdesaan perkiraan tahun 1980-an. Pada waktu-waktu tertentu, mereka berbondong-bondong baik laki-laki maupun perempuan, besar-kecil, untuk menuju ke lapangan kecamatan atau tempat tertentu guna menonton kethoprak atau wayang orang tanggapan.

Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa seni tradisional pernah menjadi magnet dan oase pelepas dahaga komunitas pada waktu itu. Selepas dari bekerja, kepenatan dan kejenuhan mereka dapat terobati dengan menonton seni pertunjukan tersebut. Antusiasme mereka, tentunya berimbas dari para seniman pelakunya. Dengan banyak tanggapan tentunya akan dapat menopang ekonomi keluarga serta dapat menyambung hidup.

Perubahan Zaman

Kejayaan dan gemerlap seni pertunjukan tradisional tersebut kini tinggal kenangan. Seiring dengan perubahan zaman, terutama era digitalisasi sekarang ini semakin memperburuk nasib mereka termasuk para senimannya. Publik dengan gampang mengakses seni pertunjukan lewat internet. Seni pertunjukan apa saja seakan sudah dalam genggaman.

Pada saat ini seni pertunjukan tradisional berjuang mati-matian di tengah arus perubahan zaman. Seni pertunjukan tradisional sebagai benteng kebudayaan Nusantara kiranya perlu diselamatkan dari krisis dalam menyambung eksistensinya. Sebagaimana hasil jajak pendapat Kompas dan pantauan di beberapa daerah, bahwa seni pertunjukan tradisional menghadapi tantangan besar dalam hal kebudayaan, (Kompas, 18/06/2024).

Jarangnya pentas berimbas pada nasib ekonomi para seniman. Di tempat pesta perkawinan pun, yang dulu sering menggunakan hiburan karawitan, sekarang lebih praktis dengan organ tunggal atau karaoke. Pementasan wayang orang atau kethoprak lebih banyak mengambil dari channel youtube. Bahkan pada saat ini, kalau orang punya kerja ingin menyajikan hiburan wayang, kethoprak, atau seni pertunjukan lain, cukup menyediakan layar digital lebar dan ditonton bersama-sama.

Sedangkan di daerah, banyak belum memiliki gedung kesenian sebagai sarana seniman berekspresi. Kalau ada, gedung-gedung tersebut yang semestinya menjadi ruang kreatif, para seniman harus menyewa dengan tarif tinggi. Tentunya para seniman tidak akan mampu mengingat penghasilannya juga tidak dapat dipastikan. Maka tak mengherankan, para seniman seni pertunjukan tradisional pada saat ini, banyak yang memilih sampingan, seperti berdagang, tukang batu, juga pekerja kasar lainnya dengan harapan bisa menyambung hidup.

Langkah Penyelamatan

Menelisik dari krisis seni pertunjukan tradisional sampai saat ini, kiranya perlu segera dilakukan langkah penyelamatan lebih dari sekadar pelestarian. Terminologi pelestarian lebih merujuk pada perawatan atau nguri-uri, sedangkan penyelamatan lebih pada upaya atau proses untuk menyelamatkan dari ancaman yang membahayakan.Upaya penyelamatan tersebut menuntut komitmen semua pihak baik pemerintah, dunia usaha, juga masyarakat.

Pemerintah perlu melakukan kerjasama sinergis untuk menyediakan dana abadi. Untuk dana abadi ini sementara ada pemerintah pusat. Namun kiranya pemerintah daerah perlu menyediakan melalui APBD. Dana abadi tersebut dipakai untuk menstimulasi agar seni pertunjukan tradisional di daerah tetap eksis.

Masing-masing OPD (Organisasi Perangkat Daerah) dapat berkolaborasi sinergis. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dapat menjadi fasilitator untuk pemberdayaan kualifikasi seniman termasuk manajemen seni pertunjukan. Dinas Pariwisata memasarkan atau memromosikan ke ranah publik agar seni pertunjukan tersebut layak jual. Diskominfo dapat menjadi sarana penyebaran informasi melalui Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra). Sedangkan pemerintah desa dapat menyisihkan alokasi dananya melalui dana desa untuk melakukan pendataan dan pendampingan dari potensi seni tradisional di wilayahnya.

Dunia usaha seperti perusahaan dapat membantu keberadaan seni tradisional melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) sebagai wujud tanggung jawab sosial perusahaan dengan lingkungan sekitar. Adapun masyarakat, termasuk para seniman dapat mengemas seni pertunjukan selaras dengan tanda-tanda zaman, seperti waktu pertunjukan yang tidak terlalu lama, kostum yang relevan dengan cerita, kaderisasi pelaku yang harus dilakukan terus menerus, serta pengelolaan manajemen seni pertunjukan profesional.

Dengan kolaborasi sinergis tersebut, tentunya seni pertunjukan tradisional tidak merasa sendiri karena ada penopang dan penyangga dari berbagai sektor. Upaya ini, tentunya menjadi fondasi dari kekuatan sebagai penyangga kebudayaan nasional. (*)

Penulis:
Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd.
Ketua Sanggar Seni Ganggadata
Desa Jogonegoro, Kabupaten Magelang dan
Guru Seni Budaya SMK Wiyasa Magelang

Dapatkan update berita pilihan setiap hari dari suarajelata.com.

Mari bergabung di Halaman Facebook "suarajelata.com", caranya klik link Suara Jelata, kemudian klik ikuti.