KOTA TERNATE MALUT, Suara Jelata – Komunitas masyarakat Sula yang merantau dan menetap tinggal di Ternate berjumlah kurang lebih 17 ribu lebih. Jumlah tersebut belum dihitung dengan keberadaan masyarakat Sula yang berdomisili di Ternate sejak zaman Kesultanan Ternate.
Orang Sula yang disebutkan ini bermukim di beberapa Kelurahan seperti Moya, Sulamadaha, Marikurubu dan lainnya. Mereka ini termasuk komunitas masyarakat yang berasal dari Kabupaten Pulau Taliabu.
Banyaknya komunitas masyarakat Sula Besi di Ternate dalam realitas politik kontemporer menurut Amanah Upara sejauh ini tidak menjadi perhitungan elit politik dalam setiap suksesi politik (Pilwalkot) Ternate.
“Mereka hanya sebatas penyumbang suara dalam setiap kontestasi politik di Kota Ternate, selebihnya atau pasca kontestasi tersebut mereka kembali terlupakan,” ungkap Amanah.
Menurutnya, indikator ini bisa dilihat dari tidak adanya birokrat asal Sula yang masuk komposisi kabinetnya setiap Walikota terpilih.
Agar suara masyarakat Sula Besi diperhitungkan dalam suksesi politik Kota Ternate, kuncinya menurut Amanah adalah komunitas Sula dengan jumlah yang disebutkan di atas perlu bersatu menyatakan sikap politik.
Melalui sambungan telpon via WhatsApp ke awak suarajelata.com, Kamis (19/09/2024), Amanah yang juga tokoh muda Sula mengatakan, orang Sula yang mendiami Ternate tidak sekedar menetap tinggal sesaat. Mereka juga bermukim di Ternate bukan pula untuk sekedar ‘numpang kerja’.
Mereka, menurut Amanah, adalah orang-orang yang memiliki kapabilitas, punya SDM yang handal dan telah banyak berbuat dan menyumbangkan pikiran untuk Kota Ternate.
“Olehnya itu, siapa pun yang nantinya menjadi Walikota Ternate, orang Sula tidak harus dianaktirikan. Mereka juga harus diperhitungkan dalam kabinet birokrasi. Jika tidak Golput adalah cara yang lebih baik dari pada kita menentukan pilihan politik tapi kemudian tidak diperhitungkan,” tandasnya.
Pada sisi lain sebut Amanah, masyarakat Sula yang mendiami Ternate secara politis ini adalah sebuah kekuatan signifikan. Siapapun Cawalkot yang mampu menggaet ekspektasi 17 ribu suara Sula itu menurut Amanah adalah modal politik berharga.
Modal politik ini menurut Amanah harusnya membuka peluang orang Sula untuk mencalonkan diri sebagai Walikota dan Wakil Walikota Ternate.
“Ini adalah jalan satu-satunya untuk melakukan agresi politik komunitas Sula dapat mengabdikan diri dan berkontribusi nyata dalam pengambilan kebijakan,” tandasnya.
Ternate menurutnya bukan milik sekelompok orang atau etnis, tetapi milik semua etnis. Sepertinya jargon politik yang didengungkan oleh Almarhum Bang Samsir Andili, mantan Walikota Ternate bahwa Ternate adalah untuk semua etnis, suku, agama,ras dan golongan.
Secara historis menurutnya, para Kapita dari Sula Besi tercatat mengabdikan diri ke Sultan Ternate. Ini untuk membantu mengusir penjajah. Para Kapita ini menjadi panglima perang yang disegani dan ditakuti kawan maupun lawan.
Fakta kontemporer dan historis ini menurutnya menjadi alasan rasional bahwa orang Sula berhak untuk menjadi Walikota dan Wakil Walikota Ternate. (Ateng)











