BREBES JATENG, Suara Jelata – Fenomena bullying di lingkungan sekolah masih menjadi persoalan serius dalam dunia pendidikan.
Tindakan saling mengejek, perundungan fisik, hingga kekerasan verbal yang kerap dianggap bercanda, nyatanya dapat meninggalkan luka psikologis mendalam bagi anak.
Sebagai ikhtiar mencegah bullying di lingkungan sekolah, Kementerian Agama Kabupaten Brebes bersama Pondok Pesantren Al Hasaniyyah Kedawon Kecamatan Larangan menggelar Seminar Nasional Pendidikan dan Penguatan Motivasi Kinerja Kepala Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah negeri maupun swasta se-Kabupaten Brebes, Sabtu (23/5/2026).
Seminar nasional ini menghadirkan sejumlah tokoh pendidikan dan agama, di antaranya Kepala Kantor Kementerian Agama Brebes KH. M. Aqsho, Kabid Penmad Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah Dr. H. Amin Handoyo, motivator nasional Dr. H. Nanang Qosim Yusuf, serta Pengasuh Ponpes Al Hasaniyyah Kedawon Dr. KH. Nuridin Syamsudin.
M. Aqsho mengatakan, sekolah tidak cukup menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menjadi ruang aman yang menumbuhkan rasa kasih sayang, empati, dan penghargaan terhadap sesama melalui Kurikulum Berbasis Cinta.
Konsep ini menempatkan nilai kasih sayang, penghormatan, kepedulian, dan kemanusiaan sebagai bagian penting dalam proses pendidikan.
“Kami di Kementerian Agama dalam kondisi sekarang ada penguatan dan penekananan dengan Kurikulum Berbasis Cinta. Kurikulum berbasis cinta bukan berarti mengurangi kedisiplinan, melainkan menghadirkan pola pendidikan yang lebih humanis dan menyentuh sisi emosional peserta didik,” katanya
Pengasuh Ponpes Al Hasaniyyah Kedawon Dr. KH. Nuridin Syamsudin memberikan catatan terkait pola kepemimpinan di madrasah yang harus dibenahi.
Menurut dia, kepala dan guru madrasah memiliki peran utama sebagai teladan. Anak-anak cenderung meniru apa yang mereka lihat.
Ketika lingkungan sekolah dipenuhi sikap saling menghormati, maka potensi munculnya tindakan bullying dapat ditekan secara perlahan.
“Yang perlu kita benahi itu pola kepemimpinan. Sebuah pendidikan akan maju jika dipimpin kepala madrasah dengan pola kepemimpinan yang tidak jauh dari pola pendidikan di pesantren. Madrasah harus yang sopan, aman nyaman, dan tidak ada kekerasan,” katanya.
Dia menegaskan bahwa madrasah memiliki peran strategis dalam membangun generasi bangsa yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga kuat dalam akhlak dan spiritualitas.
“Madrasah bukan sekadar tempat belajar, tetapi pusat pembentukan karakter, adab, dan peradaban Islam,” tandasnya. (Olam).











