DAERAHKesehatan

Di Balik Deru Ambulans Tua: Ikhtiar Digital Puskesmas Jatirokeh Melayani 96 Ribu Jiwa

×

Di Balik Deru Ambulans Tua: Ikhtiar Digital Puskesmas Jatirokeh Melayani 96 Ribu Jiwa

Sebarkan artikel ini
Kepala UOBF Puskesmas Jatirokeh, Cipto Sudrajat. (Istimewa).

BREBES JATENG, Suara Jelata Puskesmas Jatirokeh di Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes, resmi mengadopsi sistem administrasi tanpa kertas (paperless) demi melayani 96.000 warga secara optimal, meski kini terganjal kondisi armada ambulans yang telah berusia belasan tahun.

Senyum Janatun (23) merekah saat mendekap buah hatinya. Ibu muda asal Songgom ini baru saja melewati proses persalinan di Puskesmas Jatirokeh dengan kesan mendalam.

Scroll untuk lanjut membaca
Scroll untuk lanjut membaca

Baginya, keramahan petugas medis di sana bukan sekadar profesionalisme, melainkan kehangatan layaknya keluarga sendiri.

Pengalaman Janatun menjadi potret kecil dari transformasi besar yang sedang digulirkan di fasilitas kesehatan tersebut.

Sejak Januari 2026, Puskesmas Jatirokeh melakukan lompatan berani dengan menerapkan sistem paperless secara penuh.

Tak ada lagi tumpukan berkas yang memperlambat birokrasi. Langkah ini diambil untuk memastikan 96.000 jiwa di wilayah kerja mereka mendapatkan pelayanan yang ‘renyah’ dan cepat.

Efektivitas ini terbukti dengan tingkat keterisian tempat tidur rawat inap yang kini konsisten menyentuh angka 90 persen setiap harinya.

Kepala UOBF Puskesmas Jatirokeh, Cipto Sudrajat, mengungkapkan bahwa inovasi ini dirancang dalam dua etape besar.

Enam bulan pertama difokuskan pada pembenahan internal gedung, mulai dari IGD hingga apotek.

Kehadiran petugas customer service dan satpam kini menjadi pemandu bagi pasien agar tak lagi kebingungan saat mencari layanan.

Setelah fase internal mapan, fokus akan bergeser ke luar gedung untuk menangani penyakit menular seperti TB, kusta, hingga mitigasi demam berdarah di wilayah dataran rendah Songgom.

Senada dengan Janatun, Rusmanto (45) yang tengah menjaga anaknya di ruang rawat inap, mengaku terkesan dengan kedisiplinan petugas.

Ia menyoroti bagaimana penanganan medis didahulukan tanpa terhambat urusan administrasi di awal kedatangan.

Kedisiplinan ini rupanya hasil dari pembinaan rutin setiap awal dan akhir bulan yang dilakukan pihak manajemen untuk menyamakan standar pelayanan di seluruh lini.

Namun, di balik kegemilangan inovasi digital tersebut, ada ganjalan fisik yang cukup krusial.

Puskesmas Jatirokeh kini bertumpu pada armada ambulans yang sudah uzur. Seluruh unit yang ada telah berusia di atas 10 tahun, bahkan satu di antaranya sudah mengabdi selama 14 tahun.

Kondisi mesin yang tak lagi prima menjadi pertaruhan nyawa saat pasien harus dirujuk ke rumah sakit dengan standar tarif rujukan Rp50.000.

Kebutuhan akan peremajaan armada kini menjadi harapan besar bagi tim medis di Jatirokeh.

Dukungan dari Pemerintah Kabupaten Brebes dan Dinas Kesehatan sangat dinantikan agar inovasi pelayanan yang sudah berjalan apik tidak terhambat oleh kendala transportasi darurat yang kurang layak pakai. (Olam).