Close Iklan
PENDIDIKAN

OPINI: Bisa Membaca, Belum Tentu Bisa Bernalar: Membaca Hasil TKA 2026

×

OPINI: Bisa Membaca, Belum Tentu Bisa Bernalar: Membaca Hasil TKA 2026

Sebarkan artikel ini

Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 telah resmi dirilis. Seperti biasa, perhatian publik segera tertuju pada angka-angka yang muncul di layar, siapa yang nilainya tinggi, daerah mana yang unggul, dan sekolah mana yang patut berbangga. Namun, ada hal yang jauh lebih penting daripada sekadar angka. Hasil TKA tahun ini sebenarnya sedang menyampaikan pesan yang cukup jelas bahwa kita memiliki tantangan yang cukup besar dalam upaya membangun kemampuan bernalar peserta didik.

Salah satu temuan yang paling menarik adalah adanya kesenjangan yang cukup lebar antara capaian Bahasa Indonesia dan Matematika. Pada jenjang SD maupun SMP, nilai rata-rata Bahasa Indonesia berada di kisaran 60, sedangkan Matematika masih berada di kisaran 40-an. Sekilas angka ini mungkin terlihat biasa. Namun jika dicermati lebih dalam, perbedaan tersebut menunjukkan banyak peserta didik relatif lebih mampu memahami informasi dibandingkan mengolah informasi tersebut menjadi penalaran logis dan pemecahan masalah.

Scroll untuk lanjut membaca
Scroll untuk lanjut membaca

Di sinilah letak persoalan yang perlu direfleksikan bersama. Apakah proses pembelajaran di kelas sering kali lebih berfokus pada penyampaian materi dan pencapaian target kurikulum? Apakah guru hanya berusaha menuntaskan kompetensi yang harus diajarkan, peserta didik berusaha menguasai berbagai konsep yang harus dipelajari, dan sekolah berupaya mempertahankan capaian akademik yang baik? Dalam situasi seperti ini, refleksi yang perlu dilakukan bukanlah tentang seberapa banyak materi yang telah dipelajari, melainkan sejauh mana proses belajar telah membantu peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir mereka.

Matematika sebenarnya bukan hanya tentang angka dan rumus. Ketika seorang peserta didik mengerjakan soal matematika, yang diuji bukan sekadar kemampuan menghitung, tetapi juga kemampuan menganalisis, menghubungkan informasi, menemukan pola, dan mengambil keputusan. Kemampuan-kemampuan inilah yang justru sangat dibutuhkan dalam kehidupan di abad 21 ini. Saat hasil TKA menunjukkan capaian numerasi yang masih rendah, kita perlu jujur mengakui bahwa banyak peserta didik mungkin masih terbiasa menghafal tanpa benar-benar memahami alasan di baliknya.
Namun akan sangat keliru jika hasil TKA dijadikan dasar untuk menyalahkan peserta didik ataupun guru. Pendidikan adalah sebuah ekosistem yang melibatkan banyak pihak. Rendahnya capaian akademik tidak pernah lahir dari satu faktor tunggal saja. Kita perlu melihat bagaimana kurikulum diterapkan, bagaimana proses pembelajaran berlangsung di kelas, bagaimana budaya literasi dan numerasi dibangun di rumah, hingga bagaimana dukungan fasilitas belajar diberikan oleh pemerintah dan masyarakat.

Dalam konteks ini, langkah Kemendikdasmen yang menegaskan bahwa TKA bukan instrumen untuk memberi label “baik” atau “buruk” kepada sekolah maupun daerah tertentu patut dipandang sebagai arah kebijakan yang tepat. Jika digunakan secara benar, TKA dapat menjadi cermin yang membantu kita melihat kondisi nyata pendidikan saat ini. Cermin memang tidak selalu menampilkan hal yang menyenangkan, tetapi tanpa cermin kita tidak pernah tahu bagian mana yang perlu diperbaiki.

Yang perlu diwaspadai adalah ketika hasil TKA hanya berhenti menjadi laporan statistik tahunan. Angka-angka tersebut harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Sekolah perlu menggunakan data untuk mengidentifikasi kompetensi yang masih lemah. Guru dapat memanfaatkannya untuk memperbaiki strategi pembelajaran.

Pemerintah daerah juga dapat menjadikannya dasar dalam menyusun program peningkatan mutu pendidikan yang lebih tepat sasaran. Jika data hanya tersimpan dalam dokumen dan dipresentasikan dalam berbagai rapat formal, maka tujuan utama TKA akan kehilangan maknanya.

Lebih jauh lagi, hasil TKA 2026 mengingatkan bahwa kualitas pendidikan tidak bisa diukur hanya dari kemampuan mengingat informasi. Dunia saat ini membutuhkan generasi yang mampu berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, dan beradaptasi dengan perubahan yang berlangsung sangat cepat. Oleh karena itu, pembelajaran di kelas perlu semakin banyak memberi ruang bagi diskusi, eksplorasi, proyek, dan penyelesaian masalah kontekstual yang dekat dengan kehidupan peserta didik.

Hasil TKA 2026 bukanlah tentang siapa yang paling pintar atau siapa yang tertinggal. Hasil ini adalah sebuah alarm yang berbunyi pelan tetapi jelas. Alarm yang mengingatkan bahwa masih ada pekerjaan rumah besar dalam membangun budaya berpikir di sekolah-sekolah kita. Jika pesan tersebut mampu dibaca dengan jujur dan dijadikan dasar untuk berbenah, maka TKA tidak sekadar menghasilkan angka. Ia dapat menjadi titik awal perubahan menuju pendidikan yang lebih bermakna, lebih relevan, dan lebih mampu mempersiapkan generasi bangsa menghadapi tantangan masa depan.

Oleh: Andi Rizka Ekaputri, S.Pd., M.Pd

(Dosen Pendidikan Administrasi Perkantoran, UNM)