MAKASSAR, Suara Jelata—Polemik film dokumenter Pesta Babi kembali menuai sorotan di Kota Makassar.
Sejumlah aktivis, akademisi, dan organisasi kepemudaan dijadwalkan menghadiri kegiatan nonton bareng (nobar) dan testimoni yang digelar Serum Institute pada Senin (25/5/2026) pukul 13.00 WITA di Warkop Pandora Space, Jalan Sultan Alauddin, Makassar.
Kegiatan tersebut mengangkat tema “Pesta Babi: Isu Eksploitasi atau Pembangunan Jangka Panjang?” sebagai bentuk respons terhadap film dokumenter yang dinilai mulai membangun opini publik secara sepihak terkait kondisi sosial dan pembangunan di Papua.
Direktur Serum Institute, Irfan Baso, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan membedah secara kritis isi dan pesan yang dibangun dalam film Pesta Babi, yang menurutnya berpotensi menghadirkan narasi negatif terhadap pemerintah dan proses pembangunan nasional di Papua.
“Film ini harus dikaji secara kritis. Jangan sampai publik digiring pada opini yang seolah-olah menggambarkan negara sebagai pihak yang menindas masyarakat Papua, padahal pemerintah sedang berupaya membangun Papua melalui berbagai program strategis,” ujar Irfan Baso.
Ia menilai masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam menerima narasi dokumenter yang beredar luas di media sosial maupun ruang-ruang diskusi publik.
“Kami melihat ada kecenderungan film ini membangun framing yang dapat memunculkan distrust terhadap pemerintah dan aparat negara. Karena itu perlu ada ruang kontra narasi agar masyarakat mendapatkan perspektif yang lebih berimbang,” katanya.
Akademisi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr. Alfian Rendra, menilai sebuah film dokumenter tidak boleh hanya menampilkan sudut pandang tertentu tanpa menghadirkan konteks pembangunan yang lebih luas.
“Papua hari ini sedang menjadi fokus pembangunan nasional. Kalau ada film yang hanya menampilkan sisi konflik, penderitaan, atau ketidakpuasan tanpa melihat upaya pembangunan yang sedang berjalan, maka itu bisa membentuk persepsi yang tidak utuh di masyarakat,” ujar Alfian.
Menurutnya, kritik terhadap pembangunan merupakan hal yang wajar, namun tidak boleh diarahkan menjadi alat propaganda yang dapat memperuncing sentimen politik maupun sosial.
Ketua KAMMI Makassar, Muhammad Ilham, juga menilai generasi muda harus kritis terhadap berbagai produk media yang berpotensi membangun opini sepihak terkait Papua.
“Kami khawatir ada pihak-pihak tertentu yang mencoba memanfaatkan isu Papua untuk membentuk citra buruk pemerintah Indonesia di mata publik. Mahasiswa harus cerdas membaca agenda di balik sebuah narasi,” katanya.
Ia menambahkan bahwa masyarakat tidak boleh mudah terpengaruh oleh narasi yang hanya menampilkan emosi tanpa melihat fakta pembangunan di lapangan.
Sementara itu, Aktivis IMM Kota Makassar, Muhammad Hasby, mengatakan diskusi tersebut menjadi langkah penting untuk mengcounter berbagai isu yang dinilai dapat memicu polarisasi di tengah masyarakat.
“Jangan sampai film seperti ini justru dimanfaatkan untuk menyebarkan propaganda atau menggiring opini bahwa negara gagal hadir di Papua. Padahal pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan terus berjalan,” ujarnya.
Menurut Hasby, ruang diskusi akademik harus digunakan untuk meluruskan informasi yang dinilai tidak utuh agar masyarakat tidak terjebak pada narasi yang dapat memecah persatuan nasional.
Kegiatan nobar dan testimoni tersebut rencananya akan dihadiri sejumlah kelompok aktivis dan mahasiswa di Kota Makassar sebagai bagian dari upaya membangun kontra narasi terhadap film Pesta Babi yang saat ini ramai menjadi perdebatan publik nasional.











