Konvergensi Media, Buah Tangan Perkembangan Teknologi

Wafia Mustamin, Mahasiswa Komunikasi UMI
  • Whatsapp
Wafia Mustamin, Mahasiswa Komunikasi UMI

OPINI, Suara Jelata—Manusia yang mendapati diri mereka sampai pada abad ke-21 saat ini patut bersyukur.

Bagaimana tidak, hal-hal yang tampak mustahil di masa lalu kini semua menjadi mungkin.

Baca Juga

Ilmu pengetahuan manusia yang semakin hari terus mengalami perkembangan signifikan tentu saja menjadi penyebab utama. Manusia kian hari seolah tidak pernah lepas dari dahaga akan penemuan baru.

Kemunculan teknologi canggih hari ini hanya menjadi tolak ukur bagi kemungkinan ditemukannya teknologi lain yang lebih mutakhir keesokan harinya.

Sehingga disadari atau tidak manusia saat ini telah menjadikan teknologi sebagai kebutuhan dasar mereka, sejajar dengan kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan.

Media menjadi salah satu sasaran empuk kecanggihan teknologi yang dicipta manusia.

Jika dulu demi mengetahui informasi terbaru orang harus membeli koran di pinggir jalan atau berlangganan, maka saat ini hanya dengan sekali tekan pada tautan di gawai orang sudah bisa mengonsumsi informasi teraktual dalam hitungan detik.

Hal tersebut memungkinkan waktu yang dimiliki menjadi lebih efisien.

Tidak hanya teks, bahkan audiovisual dapat dinikmati dalam satu waktu secara bersamaan.

Penggabungan dua media atau lebih yang berintegrasi untuk satu tujuan inilah yang disebut sebagai konvergensi media.

Tentu saja era konvergensi ini adalah buah tangan dari perkembangan teknologi yang bersifat dinamis.

Berbagai fitur yang tersedia di media menjadi daya tarik yang begitu besar bagi banyak kalangan.

Mulai dari anak-anak hingga usia dewasa seolah tersedot dalam kubangan kemudahan akses yang tersedia di dalamnya.

Konten media yang variatif menjadi daya pikat utama. Hanya dengan satu sentuhan, belahan bumi lain seolah berada dalam genggaman tangan.

Terlepas dari kemudahan dalam bentuk efisiensi waktu maupun jarak yang dihadirkan, konsumsi terhadap teknologi media tentu saja harus diwaspadai.

Penyedia konten di media menjadikan euforia masyarakat sebagai ladang utama untuk menyuntikkan beragam asupan di dalamnya.

Mulai dari pandangan, gaya hidup, hingga doktrin keyakinan.

Jika tidak mawas diri, maka pola hidup masyarakat tentu saja akan semakin mengalami pergeseran ke arah yang tidak sehat.

Misalnya saja budaya masyarakat Indonesia yang semula cenderung konservatif akan pelan-pelan bergeser ke arah keterbukaan yang mengkhawatirkan.

Menerima dengan tangan terbuka berbagai hal negatif dari budaya bebas negara Barat yang jelas bertolak belakang dengan budaya Timur.

Proses imitasi terjadi dimana-mana. Konsep bermegah-megahan menjadi konsumsi sehari-hari.

Meskipun tidak semua namun hari ini jarang kita dapati orang yang tidak terpengaruh oleh tontonan yang disuguhkan di media.

Keberagaman asupan yang dihadirkan oleh media hari ini seyogyanya dikonsumsi sebijak mungkin.

Tidak menelan mentah begitu saja informasi atau pandangan yang ada melainkan menyaring terlebih dahulu sebelum dijadikan sebagai gaya hidup baru.

Editor:Izhar

Loading...
loading...
  • Whatsapp

Berita Lainnya