OPINI: Perjuangan Buruh dan Bentuk Proletarisasi Modern

  • Whatsapp
Penulis

OPINI, Suara Jelata— Hari buruh adalah salah satu hari libur nasional yang dilakukan setiap tanggal 1 Mei, dan dikenal dengan nama May Day. Usaha serikat buruh dalam memperjangakan ekonomi dan dunia sosial dilakukan dengan rentetan sejarah yang sangat panjang.

Dimulai pada saat buruh kerja yang ingin keluar dari sistem yang memenjarah mereka dengan kapitalisme industri abad ke-19. Apalagi di negara-negara kapitalis seperti di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah dan buruknya kondisi kerja melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja.

Berita Lainnya

Perusahaan-perusahaan industri yang memaksa buruh menguras keringat dengan bekerja 18 jam per hari. Kondisi tersebut memaksa buruh mogok kerja dan bersama istri dan anak-anak turun menutup full Chicago pada tanggal 1 Mei 1889.

Aksi tersebut di organisasi federasi buruh dengan membawa tuntutan pengurangan jam kerja dari 18 jam kerja menjadi 8 jam kerja perhari. Tragedi di Haymarket tersebut kemudian akan berdampak luas.

Dari aksi tersebut, kemudian diselenggarakannya Kongres Sosialis Internasional II di Paris, Juli 1889. Kongres tersebut menetapkan 1 Mei sebagai hari libur para buruh. Kemudian tercatat sebagai perayaan hari buruh pertama kali di dunia, dilansir dari laman Industrial Worker of the World.

Kini, setidaknya lebih dari 66 negara di dunia secara resmi menggunakan 1 Mei sebagai hari buruh internasional.

Di Asia; May Day pertama kali dilakukan pada tanggal 1 Mei tahun 1918. Hadir kala itu Sneevlit dan Baars dari partai sosialis demokrat hindia belanda (ISDV) di Surabaya. Sampai setelah pasca kemerdekaan Indonesia, peringatan hari buruh dilakukan pada tanggal 1 Mei tahun 1923 yang membawa tuntutan (tunjangan hari raya) THR, sampai aksi tersebut membuahkan hasil, pemerintah melahirkan peraturan persekot hari raya.

Pada saat orde baru, peringatan May Day sempat tidak dijadikan sebagai hari libur nasional dan tidak diperingati, karena alasan sangat erat kaitanya dengan tragedi 30/SPKI yang terjadi pada tahun 1965-1966.

Sampai masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, May Day ditetapkan sebagai hari libur nasional karena rutin diperingati setiap tahun mulai pada tahun 2000.

Dengan rentetan sejarah yang panjang, dan tuntutan yang berbeda beda, May Day menjadi hari yang dipenuhi perjuangan kelas pekerja melawan kelas yang menguasai sarana produksi, globalisasi yang terjadi memperpanjang perbudakan era moderen.

Eksploitasi jam kerja yang diperkenalkan oleh Marx sebagai sumber keuntungan bagi kaum borjuasi adalah suatu sistem yang diperbaharui sampai sekarang.

Dengan segala keadaan yang menimpa pekerja, dan upah yang ditentukan pada kebutuhan pokok pekerja, akan menjadi perputaran modal kapital, karena untuk memenuhi kebutuhan sosial, buruh harus menggunakan upahnya dan mengatur sebaik mungkin upah yang didapat agar dapat berlibur di hari Minggu.

Buruh bukan saja menjadi sarana pendapatan nilai, namun kapitalisme bahkan menyentuh hal mendasar dari keperluan masyarakat, perampasan ruang terjadi dan penciptaan pengangguran yang merajalela, akan menciptakan buruh yang semakin tunduk akibat pertimbangan PHK, dikarenakan tingkat pengangguran yang tinggi.

Dari segala aspek yang dilihat, bahwa gerakan massa dan dukungan bagi kaum pekerja, buruh dan petani, akan dapat merubah tatanan yang ada pada saat ini. May Day adalah salah satu libur nasional yang dapat merubah nasib kaum pekerja.

Upah yang tinggi dan pengurangan jam kerja tidak akan berpengaruh kepada modal kapital, dan dari segala sisi kemiskinan. Pengangguran akan teratasi ketika tidak ada penumpukan kekayaan pada segelintir orang, karena masalah yang dihadapi saat ini adalah negara semakin maju dari sisi pembangunan, namun masyarakat kelas menengah ke bawah semakin jauh dari kesejahteraan.

Perkotaan adalah pusat dari segala sektor, ekonomi jasa dan lain-lain, namun paling rentang dengan perampasan ruang akibat pembangunan. Masyarakat yang padat penduduk akan semakin terpinggirkan.

Masyarakat yang menggantungkan hidupnya sebagai pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan akan dianggap sebagai sumber atau faktor kemacetan.

Solusinya adalah penggusuran, ditambah hadirnya program kotaku yang lebih mengedepankan estetika dari pada pemberantasan kemiskinan, semakin meningkatkan angka pengangguran. Sehingga akan menggantungkan hidupnya sebagai buruh pabrik dan menjadi salah satu bentuk ploretarisasi modern.

Ketergantungan terhadap uang akan merubah cara pandang seseorang melihat kebutuhan, bahkan masyarakat pedesaan dipengaruhi dengan dunia perkotaan yang menjanjikan pendapatan atau lebih tepatnya memudahkan mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan eksistensi dalam rana sosialanya.

Kultur yang terbangun adalah meningkatnya suatu budaya sosial perkotaan ke pedesaan, bahkan meningkatkan angka masyarakat yang melakukan urabanisasi.

Melihat dari rentetan sejarah dan patalogi yang terjadi di masyarakat, bukanlah sesuatu hal yang kebetulan atau terjadi secara alamiah, namun akibat dari konstruk dari satuan kerja yang lebih mengedepankan keuntungan.

Penulis: Muh. Irwan, Mahasiswa Jurusan Sosiologi Agama, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

Tulisan tersebut di atas merupakan tanggung jawab penuh penulis

loading...
  • Whatsapp