Suara Jelata— Di Indonesia, ganja termasuk narkotika golongan I, yang dilarang Penyalahgunaannya.
Disisi lain, ada peringatan Hari Ganja Internasional setiap tanggal 20 April.
Sejarah perayaan Hari Ganja Internasional kerap dikaitkan dengan kode angka 420.
Dilangsri dari Tirto[dot]id, ganja digunakan sebagai obat psikoaktif, terutama untuk tujuan medis.
Kode 420 sendiri merujuk pada bulan 4 (April) dan tanggal 20. Benar demikian ?.
Dalam tulisan Olivia B. Waxman bertajuk “Here’s Weed” menelusuri asal usul 420 dikalangan pengguna ganja, termasuk dalam perayaan Hari Ganja Nasional.
Salah satu versi yang muncul adalah bahwa 420 merupakan kode di internal aparat kepolisian untuk menunjukkan informasi bahwa ada pesta ganja yang sedang berlangsung dan menjadi target operasi.
Penerjemahan lain yang lebih liar bahkan meyakini bahwa 420 terinspirasi dari hari kelahiran pemimpin NAZI, Adolf Hitler. Diktator Jerman itu lahir pada 20 April 1889.
Ada pula yang menafsirkan 420 dari kutipan lagu Bob Dylan yang berbunyi “Rainy Day Women # 12 & 35”. Menurut versi ini, 12 dikalikan dengan 35 sama dengan 420.
Akan tetapi, menurut Waxman, semua spekulasi tersebut salah.
Versi yang paling dapat dipercaya untuk menelusuri 420 adalah sebuah kisah mengenai geng Waldos pada 1971 di California, Amerika Serikat.
Geng Waldos beranggotakan 5 orang remaja dari SMA San Rafael, California, yakni Steve Capper, Dave Reddix, Jeffrey Noel, Larry Schwartz, dan Mark Gravich.
Kelima anak muda itu menggunakan angka 420 sebagai kode untuk berkumpul dan memakai ganja bersama-sama. Angka 420 adalah kode jam pertemuan mereka, yakni 16.20 atau pukul 4 sore lebih 20 menit.
Kode 420 itu pada akhirnya menjadi sinyal khusus yang populer di kalangan anak muda pengguna ganja di Amerika Serikat bahkan hingga beberapa puluh tahun kemudian.
Tahun 1991, atas andil seorang jurnalis bernama Steve Bloom, Majalah High Times mencetak dan menyebarkan brosur terkait kode 420 tersebut.
Segera sejak saat itu, 420 semakin dikenal di seluruh dunia sebagai kode untuk berpesta ganja alias mariyuana, bahkan dijadikan sebagai momen perayaan Hari Ganja Sedunia.
“Mereka ingin orang-orang di seluruh dunia berkumpul pada satu hari [20 April] setiap tahun dan secara kolektif merokok ganja pada saat yang sama,” sebut Bloom kepada Celebstoner[dot]com pada 2015.











