OPINI, Suara Jelata— Tidak perlu penjelasan kenapa kemajuan kepandaian masyarakat Bumi Putra tidak dapat pesat, apabila dalam hal itu perempuan terbelakang.
Setiap waktu kemajuan perempuan itu ternyata merupakan faktor penting dalam peradaban bangsa, begitulah kutipan salah satu kata bijak dari R.A Kartini yang penulis dapatkan dalam artikel Tribunnews (dot) com dengan judul 70 Kutipan RA Kartini.
Kata Bijak tentang Emansipasi Perempuan hingga Cinta untuk Status di Sosmed yang ditulis oleh Citra Agusta Putri Anastasia. Setiap waktu kemajuan perempuan ternyata merupakan faktor penting dalam peradaban bangsa, penggalan kalimat yang sangat sarat makna untuk dikaji oleh perempuan-perempuan kontemporer.
Di zaman R.A Kartini, wanita belum diberikan akses untuk banyak mengambil peran dalam ranah publik, masih dibatasi dalam hal Pendidikan dan aspek lainnya, Namun dia mampu menghasilkan karya, tampil menjadi inspirator bagi wanita di zamannya dan zaman setelahnya.
Berdasarkan fakta sejarah dari penelitian diketahui dan dipahami bahwa di antara kebudayaan dan peradaban dunia yang hidup di masa turunnya Al-Qur’an, seperti Yunani, Romawi, Yahudi, Persia, Cina, India, Kristen, dan Arab (pra-Islam), tidak ada satu pun yang menempatkan perempuan lebih terhormat dan bermartabat daripada nilai-nilai yang diperkenalkan di dalam Al-Qur’an.
Pada puncak peradaban Yunani, perempuan pada umumnya menjadi alat pemenuh naluri seks laki-laki. Pada peradaban Romawi anak-anak perempuan sampai dewasa sebelum menikah berada di bawah kekuasaan ayahnya.
Setelah menikah, kekuasaan pindah ke tangan suami. Kekuasaan yang dimaksud meliputi kewenangan menjual, mengusir, menganiaya dan membunuhnya. Peradaban Hindu dan China juga tidak lebih baik dari Yunani dan Romawi.
Hak hidup bagi seorang perempuan di India yang bersuami harus berakhir pada saat kematian suaminya. Istri harus ikut dibakar hidup-hidup berbarengan dengan mayat suaminya. Praktek seperti ini baru berakhir pada abad ke-17.
Perlakuan jahat dan ketidaksukaan orang-orang jahiliyyah terhadap perempuan ini diabadikan dalam QS al-Nahl [16]: 58-59):
وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِاْلأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيْمٌ. يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوْءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُوْنٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلاَ سَاءَ مَا يَحْكُمُوْنَ
“Apabila salah seorang dari mereka diberi kabar gembira dengan kelahiran anak perempuan, menjadi merah padamlah wajahnya dalam keadaan ia menahan amarah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak karena buruknya berita yang disampaikan kepadanya. (Ia berpikir) apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya hidup-hidup di dalam tanah? Ketahuilah alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS al-Nahl [16]: 58-59).
Menganalisis kisah tersebut di atas serta berdasarkan data fakta sejarah dari hasil penelitian dan persaksian dalam Al-Qur’an, diketahui dan dipahami bahwa perempuan pada zaman dahulu hidup dalam belenggu penderitaan, tekanan, penjajahan.
Tidak mampu dan tidak bisa berbuat untuk masyarakat karena mereka juga tidak punya kemampuan menolong diri sendiri.
Setelah Islam datang, perubahan nasib perempuan pun mulai terjadi, Islam mengecam perilaku kesewenang-wenangan terhadap perempuan, Menurut Islam, nilai kemuliaan manusia semata-mata hanya terletak pada ketaqwaannya, sebagaimana firman Allâh dalam QS al-Hujurât [49]: 13.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ
Terjemahnya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Islam telah mengangkat derajat perempuan dan memuliakan mereka. Hal yang ini sungguh sangat pantas disyukuri oleh kaum perempuan, mereka kini bisa dengan tenang memperoleh hak-haknya seperi dalam hal Pendidikan dan hidup bersosial.
Masa kini, banyak perempuan kontemporer yang telah berusaha mengekspresikan syukurnya dalam bentuk aksi nyata mengambil peran optimal dalam panggung peradaban. Hal in tentunya penting dilakukan karena di tangan perempuanlah gemilang dan cemerlangnya peradaban bisa terukir.
R.A Kartini dalam hal ini kembali menyampaikan bahwa “Dalam tangan anaklah terletak masa depan dan dalam tangan ibulah tergenggam anak yang merupakan masa depan itu.”
Pernyataan ini menggambarkan bahwa masa depan bangsa ada di tangan generasi muda dan masa depan generasi muda tergantung dari ibunya yakni perempuan yang telah melahirkannya, hal ini tentunya tidak luput dari peran perempuan sebagai madrasah buat anak-anaknya.
Perempuan sebagai madrasah bagi anak-anaknya tentunya mengacu kepada peran perempuan dalam keluarga dan terutama dalam rumah tangganya.
Perempuan yang dengan segenap kemampuan dan potensi dirinya harus bisa mendidik dan membesarkan anak-anaknya agar mampu menjadi pemimpin di masa depan dan perempuan yang harus mampu menjadi penyejuk dan pendamping suami sebagai pemimpin masa kini. Begitu kompleks tugas dan tanggung jawab perempuan.
Di era Kontemporer, peran tanggung jawab perempuan semakin berat dan menemui banyak tantangan dan hambatan; modernisasi, sekulerisasi, westernisasi dan ragam tantang lainnya seolah mengingatkan dan menyerukan kepada perempuan-perempuan kontemporer untuk terus meningkatkan kompetensi dirinya.
Perlunya peningkatan kompetensi diri perempuan kontemporer bukan hanya terkait dengan tugas dan tanggung jawab sebagai istri bagi suaminya, ibu bagi anak-anaknya, anak bagi orang tua dan mertua, saudara dan anggota masyarakat, tetapi juga kompetensi untuk agar bisa tetap tegak menatap kesombongan zaman dengan menu kehidupan yang siap meracuni siapa pun yang tidak jeli meilhat setiap perangkap yang terpasang.
Salah satu hal yang perlu dipahami oleh perempuan kontemporer agar mampu tetap tegak berjalan dan menunaikan segala tugas dan tanggung jawabnya adalah memahami tentang dirinya terutama terkait psikologisnya.
Banyaknya kegagalan perempuan dalam mengarungi kehidupan keluarga, berumahtangga, bermasyarakat dan dalam dunia kerja lebih disebabkan oleh kesalahan perempuan dalam memandang dirinya.
Menurut Eagly dalam. Eti Nurhayati dalam tulisannya tentang Psikologi Perempuan Dalam Berbagai Perspektif menyatakan bahwa pada umumnya perempuan dicitrakan atau mencitrakan dirinya sendiri sebagai makhluk yang emosional, mudah menyerah (submisif), pasif, subjektif, lemah dalam matematika, mudah terpengaruh, lemah fisik, dan dorongan seksnya rendah.
Sementara laki-laki dicitrakan dan mencitrakan dirinya sebagai mahluk yang rasional, logis, mandiri, agresif, kompetitif, objektif, senang berpetualang, aktif, memiliki fisik dan dorongan seks yang kuat.
Disamping itu, dalam perspektif psikologi, ada beberapa persepsi yang sebagian besar merupakan persepsi negative yang selalu membayang-bayangi perempuan dalam kehidupannya yakni, perempuan dicitrakan sebagai makhluk yang tidak sempurna (the second class).
Selain itu, makhluk yang tidak penting (subordinate), sehingga selalu dipinggirkan (marginalization), dieksploitasi, dan mereka diposisikan hanya mengurusi masalah domestik dan rumah tangga (domestication/housewivezation), seperti masalah dapur, kasur, dan sumur.
Perempuan selalu mengalah, menyetujui, menyesuaikan diri, dan menyenangkan orang lain. Perempuan itu emosional, mudah menangis, penakut dan sensitif.
Perempuan lemah dan tidak berprestasi, persepsi ini muncul akibat minimnya jumlah perempuan yang ahli di diberbagai bidang.
Sebut saja sains, politik, dan ekonomi dipandang citra perempuan yang lemah disebabkan ketidakmampuannya dalam mengejar prestasi seperti yang dicapai laki-laki, perempuan yang mudah terpengaruh dan mudah dibujuk untuk mengubah keyakinannya.
Perempuan lebih sensitif terhadap perilaku non-verbal. Berdasarkan observasi, perempuan memiliki kemampuan dalam mengekspresikan dan memahami pesan-pesan non-verbal.
Perempuan lebih ekspresif. Perempuan sering dicitrakan berperilaku cenderung ekspresif, sedangkan laki-laki berperilaku instrumental dikaitkan dengan interrelasi di lingkungan sosial.
Beragam pandangan tersebut banyak mempengaruhi sikap dan tindakan perempuan dalam mengambil keputusan hidupnya, ibaratnya banyak perempuan yang kalah sebelum berperang hanya karena berbagai persepsi negative yang telah meracuni pikiran dan perasaanya.
Padahal kalau mereka melihat di sekitar, ditemukan banyak perempuan yang tampil cemerlang mengambil peran penting dalam mengindahkan dan memajukan peradaban.
Abraham Maslow dalam penelitiannya menemukan bahwa perempuan yang memiliki keyakinan kuat bahwa dirinya berharga, cenderung memiliki sifat mandiri, asertif, dan sukses.
Hasil penelitian Abraham Maslow yang dinyatakan dalam buku psikologi wanita tersebut dapat menjadi salah satu acuan bahwa perempuan yang menginginkan kesuksesan dalam hidup sangat perlu membangun konsep dirinya yang positif dan lebih mengukuhkan kepercayaan dirinya sehingga bisa bermitra dengan laki-laki mengambil peran penting dalam pembangunan bangsa dan negara.
R.A. Kartini dalam hal ini menyatakan bahwa “Angkatan muda, tiada pandang laki-laki atau perempuan wajiblah berhubungan. Masing-masing secara sendiri-sendiri dapat berbuat sesuatu untuk memajukan, meningkatkan derajat bangsa kami.
Tetapi apabila kami bersatu, mempersatukan kekuatan kami, bekerja bersama-sama, maka hasil usaha kami akan lebih besar. Bersatu kita kukuh dan berkuasa.” Pernyataan ini menyiratkan harapan dan semangat agar seluruh elemen bangsa lelaki dan perempuan bisa tampil Bersama, saling bahu-membahu dalam membangun peradaban bangsa yang gemilang.
Ajaran Islam dalam hal ini pun memberikan ruang tentang hal tersebut, perempuan tidak boleh untuk menarik diri, acuh dan tidak mau berinteraksi dalam kehidupan publik dengan alasan dirinya terikat oleh aturan-aturan. Dia tetap punya kedudukan sama dengan laki-laki meski cara aktualisasinya berbeda. Perempuan juga tetap wajib peduli, memikirkan dan respek dengan permasalahan sosial di sekitarnya.
Hal in tentunya sangat beralasan terutama di era kontemporer, era dimana jumlah perempuan selalu dianggap lebih banyak dari lelaki. Adapun jumlah perempuan di Indonesia tahun 2020 berdasarkan data dari beberapa media sebanyak 133,54 juta orang, atau 49,42 persen dan jumlah penduduk berjenis kelamin laki-laki di Indonesia sebanyak 136,66 juta orang, atau 50,58 persen dari penduduk Indonesia, hal ini berdasarkan data dari Kepala BPS Suhariyanto. Data tersebut menunjukan jumlah yang hampir imbang antar jumlah lelaki dan perempuan.
Data yang seolah ingin menggugah kesadaran perempuan kontemporer agar semakin semangat meningkatkan kualiatas dirinya, berusaha menjadi bagian dari sumber daya manusia yang unggul agar mampu optimal mengemban tugas dan tanggung jawabnya secara optimal dalam kancah keluarga, masyarakat, bangsa dan negara seperti yang dicontohkan oleh Wakil Bupati Sinjai Ibu Hj.A.Kartini Ottong.
Perempuan kontemporer dalam hal ini hanya perlu untuk memiliki kemauan sebagaimana yang dikatakan oleh R.A. Kartini bahwa Tahukah engkau semboyanku? Aku Mau! Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan.
Kata Aku tidak dapat! Melenyapkan rasa berani. Kalimat ‘Aku Mau!’ membuat kita mudah mendaki puncak gunung” Jika perempuan sudah berkata aku mau dan berusaha melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan kemauannya itu maka keindahan peradaban akan semakin terasakan dalam sentuhan kualitas dan kelembutan, tentunya tetap dalam balutan iman dan takwa.
Penulis: Faridah, S.Kom.I., M.Sos.I, Ketua Prodi KPI FUKIS IAI Muhammadiyah Sinjai











