DAERAHSosial

Bukan Sekadar Buku, Duta Baca Gowa Sasar Dapur Warga di Bulan Ramadan

×

Bukan Sekadar Buku, Duta Baca Gowa Sasar Dapur Warga di Bulan Ramadan

Sebarkan artikel ini
Gerak langkah para pegiat literasi yang turun menyisir desa-desa demi mengantarkan bantuan pangan bagi warga prasejahtera. (Foto : Wahyuni).

GOWA SULSEL, Suara Jelata – Komunitas Pintu Literasi Indonesia bersama Duta Baca Sulawesi Selatan menyalurkan puluhan paket sembako bagi kaum duafa di Kecamatan Tompobulu, Gowa, Ahad (15/3/2026), sebagai wujud nyata penerapan literasi inklusi sosial.

Ramadan di dataran tinggi Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Gowa, terasa lebih hangat tahun ini.

Scroll untuk lanjut membaca
Scroll untuk lanjut membaca

Bukan karena terik matahari, melainkan gerak langkah para pegiat literasi yang turun menyisir desa-desa demi mengantarkan bantuan pangan bagi warga prasejahtera.

Langkah kaki para relawan dari Komunitas Pintu Literasi Indonesia ini menembus Desa Tanete, Rappoala, Cikoro, hingga Kelurahan Malakaji.

Di sana, paket sembako bukan sekadar bantuan logistik, melainkan pesan kuat tentang kemanusiaan.

Gerakan yang dimulai sejak 2021 ini membuktikan bahwa literasi tidak melulu soal mengeja huruf di atas kertas, tapi juga membaca kebutuhan perut tetangga.

Ramlah Rara, pendiri Pintu Literasi Indonesia sekaligus Duta Baca Sulawesi Selatan, menegaskan aksi ini adalah napas panjang komunitasnya.

“Alhamdulillah, kegiatan bulan ini terlaksana baik berkat donatur dan pengurus. Kami harap masyarakat lebih luas terlibat dalam gerakan sedekah Rp 20.000 ini agar program tetap lestari,” ujarnya saat ditemui di sela pembagian bantuan.

Yang menarik, gerakan ini mendapat dukungan lintas sektor. Mulai dari pelaku UMKM lokal, Kepala Puskesmas Tompobulu, hingga pegawai Bumdesma turut mengulurkan tangan.

Kolaborasi ini memperlihatkan sinergi yang apik antara pemuda dan instansi pemerintahan dalam memitigasi kemiskinan ekstrem di wilayah tersebut.

Dea Ananda dan Siti Hardianti Ashari, dua Duta Baca Kecamatan Tompobulu yang sedang menikmati libur kuliah, memilih terjun langsung ke lapangan.

Bagi mereka, menjadi produktif berarti memberi dampak. “Ini adalah wujud pengaplikasian literasi inklusi sosial. Kami bukan hanya motivator gemar membaca, tapi juga penggerak kemanusiaan,” tutur mereka kompak.

Di ujung Kelurahan Malakaji, rasa syukur terpancar dari wajah Dg Kadi. Sebagai penyandang disabilitas yang hidup dalam keterbatasan, bantuan ini menjadi oase di tengah bulan suci.

“Terima kasih atas bantuannya selama ini. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua,” bisik Dg Kadi lirih, menutup perjumpaan hari itu dengan haru. (Wahyuni).