NasionalNews

Disorot Soal Buah dan Porsi Menu Rapelan, SPPG Tongke-Tongke Sinjai Ternyata Belum Punya Sertifikat Halal ‎

×

Disorot Soal Buah dan Porsi Menu Rapelan, SPPG Tongke-Tongke Sinjai Ternyata Belum Punya Sertifikat Halal ‎

Sebarkan artikel ini
Dapur MBG Tongke-Tongke/Zh

Sinjai, Suara Jelata—Selain Paket makanan yang disalurkan oleh Dapur MBG Tongke-Tongke pada Selasa (17/3/2026) di Desa Saukang, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai, menuai sorotan dari orang tua siswa.

‎Ternyata dapur penyedia makanan ini juga diketahui belum mengantongi sertifikat halal.

‎Padahal, dapur ini telah lama beroperasi dan melayani lebih dari 2.000 penerima manfaat.

‎Kepala SPPG Tongke-Tongke, Gustiawan, mengakui bahwa sertifikat halal masih dalam proses pengurusan.

‎“Kalau halal sementara masih dalam pengurusan dan belum terbit,” katanya saat dihubungi, Rabu (18/3/2026).

‎Pemerhati MBG, Ahmad Wahyu (46) mengatakan Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, mengingat pentingnya jaminan halal.

‎”Dalam program pemerintah seperti MBG, keberadaan sertifikat halal menjadi aspek krusial untuk menjaga kepercayaan publik, memastikan keamanan konsumsi, serta melindungi hak siswa sebagai penerima manfaat,” terangnya.

‎Penyaluran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Saukang, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai, menuai sorotan dari orang tua siswa terkait kualitas makanan yang diterima.

‎Paket makanan yang disalurkan oleh Dapur MBG Tongke-Tongke pada Selasa (17/3/2026) disebut merupakan jatah konsumsi yang dirapel untuk beberapa hari.

‎Isi paket meliputi satu kotak susu, satu buah naga, satu buah apel, dan satu potong kue dalam kemasan plastik.

‎Orang tua Siswa mempertanyakan kelayakan menu, terutama jika dikaitkan dengan estimasi anggaran Rp8.000 hingga Rp10.000 per hari.

‎Sorotan utama juga tertuju pada kondisi buah, khususnya buah naga yang dinilai berukuran kecil, belum matang, dan kurang layak dikonsumsi anak sekolah.

‎Orang tua menduga tidak adanya proses penyortiran optimal sebelum distribusi.

‎“Buahnya kecil dan belum matang. Ini yang kami pertanyakan, termasuk soal harganya,” ujarnya.