BREBES JATENG, Suara Jelata – Kepala BKPSDMD Kabupaten Brebes, M. Syamsul Haris, memimpin inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah instansi pada, Kamis (30/4/2026).
Sidak dilakukan guna menindak puluhan ASN yang terbukti menggunakan aplikasi presensi ilegal untuk memanipulasi kehadiran kerja.
Tim Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM Daerah (BKPSDMD) datang tanpa undangan.
Mereka tidak sedang memantau kinerja rutin, melainkan memburu jejak digital yang culas: aplikasi presensi fiktif yang dibeli seharga Rp250 ribu.
Sidak ini menjadi puncak dari kegerahan otoritas setelah kabar mengenai ASN yang ‘titip absen’ via aplikasi ilegal viral di jagat maya.
Perangkat lunak ini memungkinkan para abdi negara melakukan presensi dari jarak jauh tanpa perlu menginjakkan kaki di kantor.
Sasaran tim menyisir sekolah hingga pusat kesehatan masyarakat. Langkah pertama dimulai dari SDN Brebes 02, berlanjut ke SDN Brebes 01.
Di sana, seorang guru tak berkutik saat tim menemukan aplikasi terlarang tersebut di ponselnya.
Haris mengungkapkan bahwa sektor pendidikan menjadi penyumbang terbanyak dalam daftar hitam ini.
“Kita ambil sampel acak sekolah karena berdasarkan laporan masuk paling banyak pengguna adalah guru,” ujar Haris saat ditemui usai sidak di Puskesmas Klikiran, Jatibarang.
Temuan ini bukan sekadar gertakan. Sebelum turun ke lapangan, Haris mengaku telah memanggil sejumlah oknum guru secara tertutup.
Empat orang sudah mengakui kecurangan mereka. Namun, fenomena ini rupanya menjalar ke sektor krusial lainnya, yakni pelayanan kesehatan.
Di Puskesmas Klikiran, sistem deteksi BKPSDMD mengendus tujuh karyawan yang bermain api dengan aplikasi serupa.
Mereka yang terlibat bukan orang sembarangan; mulai dari petugas rekam medis hingga bagian farmasi.
Bahkan, seorang dokter gigi di Puskesmas Brebes turut masuk dalam pusaran skandal ini.
Saat dimintai keterangan, para ASN ini melontarkan beragam alasan yang terdengar manusiawi namun mencederai integritas.
Ada yang berdalih harus menjemput anak les, hingga alasan jarak rumah yang terlampau jauh dari lokasi kerja.
“Ada yang bilang sering bolak-balik kantor rumah untuk jemput anak les. Ada yang ngaku rumahnya jauh,” ungkap Haris menutup pembicaraan. (Olam).











