DAERAHPeristiwa

Jalur Maut Paguyangan Tak Kunjung Usai, Warga Kirim Surat  ke Istana Presiden

×

Jalur Maut Paguyangan Tak Kunjung Usai, Warga Kirim Surat  ke Istana Presiden

Sebarkan artikel ini
Flyover Kretek Paguyangan, Brebes. (Dok/Istimewa).

BREBES JATENG, Suara Jelata Aliansi Masyarakat Peduli Keselamatan Flyover Kretek (AMPK) melayangkan surat resmi kepada Presiden Republik Indonesia guna mendesak perbaikan infrastruktur di ruas jalan nasional Paguyangan, Brebes, yang kini berstatus darurat kecelakaan.

Kondisi jembatan layang (flyover) Kretek di Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, kian mencekam.

Scroll untuk lanjut membaca
Scroll untuk lanjut membaca

Bukan sekadar isapan jempol, jalur ini telah menjelma menjadi ‘zona maut’ yang terus menelan korban jiwa.

Gerah dengan kondisi yang tak kunjung membaik, Aliansi Masyarakat Peduli Keselamatan Flyover Kretek (AMPK) akhirnya mengambil langkah ekstrem dengan menyurati pucuk pimpinan tertinggi negara.

Suasana di Kedai Kopi Kalker, Jalan Lingkar Bumiayu, tampak lebih serius dari biasanya. Ketua AMPK, Dedi Anjar Priyanto, menemui awak media pada, Senin (11/05/2026).

Ia membawa salinan surat bernomor 001/AMPK-FO/V/2026. Surat itu bukan surat biasa; tujuannya jelas, mulai dari PPK 1.4 Jawa Tengah, Direktorat Jenderal Bina Marga, hingga meja Presiden RI di Jakarta.

Masalah utamanya klise namun mematikan: badan jalan yang terlampau sempit. Volume kendaraan yang membeludak setiap harinya, mulai dari motor hingga truk muatan berat, dipaksa berdesakan di ruang aspal yang terbatas.

 

Minimnya fasilitas keselamatan kian memperkeruh keadaan, membuat kecelakaan lalu lintas seolah menjadi agenda rutin yang mengerikan di lokasi tersebut.

 

Ada empat tuntutan utama yang diusung AMPK. Pertama, pembersihan jalur penyelamat dari pepohonan rimbun yang menghalangi pandangan pengemudi.

Kedua, dan yang paling krusial, adalah pelebaran jalan atau pengecoran ulang secara menyeluruh dengan kualitas tinggi.

Ketiga, pengadaan lampu penerangan jalan dan pemasangan CCTV untuk memantau titik buta.

Terakhir, pembangunan halte permanen di depan SMP Negeri 1 Paguyangan guna melindungi ratusan siswa yang setiap hari bertaruh nyawa saat menunggu angkutan di pinggir jalan raya.

Dedi menekankan bahwa langkah berkirim surat hingga ke level Presiden diambil karena penanganan di tingkat bawah dirasa berjalan di tempat.

“Kami tegaskan dengan tegas, jumlah kecelakaan di jalur ini sudah tak terhitung dan telah merenggut banyak nyawa serta menimbulkan luka parah. Penyebab utamanya mutlak satu: sempitnya badan jalan yang ada sekarang,” tegas Dedi Anjar.

Baginya, setiap detik penundaan berarti membuka peluang bagi jatuhnya korban baru.

Masyarakat kini hanya bisa menunggu, apakah suara dari pinggiran Brebes ini akan didengar oleh Istana, atau justru tetap menjadi catatan kelam di aspal Flyover Kretek. (Olam).