Opini—-Pernah tidak kamu demam tinggi, lalu ada yang bawakan makanan kesukaanmu?
Makanan yang biasanya kamu habiskan dalam hitungan menit, hari itu tidak terasa apa-apa. Hambar. Tidak ada nikmatnya. Bukan makanannya yang berubah. Tapi kamu yang sedang tidak baik-baik saja.
Dari situ saya mulai berpikir, sakit itu sebenarnya apa sih?
Nah kalau diamati, sakit itu pada dasarnya adalah hilangnya kenikmatan.Selama kamu sehat, makan itu nikmat, tidur itu nikmat, jalan-jalan itu nikmat. Begitu sakit datang, semua itu hilang satu per satu.
Nah, kalau kita mau jujur, kenikmatan yang kita rasakan dalam hidup itu tidak cuma satu jenis.
Ada kenikmatan fisik seperti makan, tidur, bergerak, berolahraga, liburan. Ada kenikmatan emosi seperti merasa aman, merasa dicintai, menikmati pertemanan, bisa tertawa lepas bersama orang-orang yang kita sayangi. Ada kenikmatan akal seperti nikmatnya belajar sesuatu yang baru, nikmatnya diskusi yang dalam, nikmatnya membaca buku lalu merasa dunia kita meluas. Dan ada kenikmatan fitrah seperti nikmatnya beribadah, nikmatnya merasa dekat dengan Tuhan, nikmatnya hidup yang terasa bermakna.
Eits karena kenikmatan itu ada empat jenisnya, maka sakit pun ada empat jenisnya.
Sakit fisik mencuri kenikmatan fisik. Sakit emosi mencuri kenikmatan bersosial dan berperasaan. Sakit akal mencuri kenikmatan berpikir dan belajar. Sakit fitrah mencuri kenikmatan beribadah dan merasa hidup ini punya makna.
Dari keempat sakit itu, sakit fisik adalah yang paling mudah disadari. Kenapa? Karena efeknya langsung terasa. Demam datang, makan tidak enak, badan lemas, tidur tidak nyenyak, semua itu segera memberi tahu kamu bahwa ada yang tidak beres. Dan kamu sadar. Kamu lapor ke dokter. Dokter periksa, beri obat, kamu sembuh.
Tapi sakit akal? Sakit emosi? Sakit fitrah?
Ini yang berbeda. Sakitnya tidak datang tiba-tiba. Tidak ada demam yang bisa diukur suhunya. Tidak ada nyeri yang bisa ditunjuk lokasinya. Ia datang perlahan begitu perlahan sampai kamu tidak sadar kapan mulainya.
Nikmat belajar hilang pelan-pelan, sampai duduk dengan buku terasa seperti hukuman. Nikmat bersosial hilang pelan-pelan, sampai kumpul sama teman terasa melelahkan. Nikmat beribadah hilang pelan-pelan, sampai sholat terasa seperti formalitas kosong.
Dan karena hilangnya pelan-pelan, sehingga kamu tidak merasa kehilangan, yang tersisai tinggal rasa hambar yang samar, hidup berjalan, aktivitas tetap ada, tapi entah kenapa tidak ada yang terasa benar-benar nikmat.
Di sinilah letak bahayanya.karena dokter tidak bisa mengobati pasien yang tidak datang. Dan pasien tidak akan datang kalau dia tidak merasa sakit.
Sehingga sakit fisik mendorong kamu ke dokter karena rasa sakitnya tidak bisa diabaikan. Tapi sakit akal, emosi, dan fitrah, yah karena tidak terasa seperti sakit fisik, sehingga tidak ada yang merasa perlu mencari obatnya. Hidup tetap jalan. Kerja tetap jalan. Media sosial tetap aktif. Dari luar semua terlihat baik-baik saja.
Dan justru karena terlihat baik-baik saja itulah,sehingga masalah ini tidak pernah dilihat sebagai masalah.Tidak ada yang mengangkat tangan dan berkata, saya sedang sakit, saya butuh obat. Karena tidak ada yang sadar bahwa dia sedang sakit.
Ini bukan masalah kecil. Ini masalah yang serius. Karena masalah yang tidak disadari tidak akan pernah diselesaikan. Ia hanya akan terus menggerogoti dari dalam, diam-diam, sampai kerusakannya sudah terlalu dalam untuk diabaikan.
Dengan cara pandang diatas, coba kita pakai untuk melihat generasi bangsa kita hari ini,akankah mereka sehat walafiat, atau sedang sakit? Dan tanda-tandanya ada di mana-mana,yahh itu kalau kita mau jujur melihatnya.
Yahh contohnya saja hari ini ilmu pengetahuan belum pernah semudah ini diakses. Mau tahu apa saja, tinggal ketik, langsung muncul. Tapi bandingkan dengan orang-orang Yunani klasik Thales, Anaximenes, Anaximander, Plato, Aristoteles.
Mereka hidup di zaman yang untuk tahu sesuatu harus cari gurunya dulu, perjalanannya jauh, aksesnya sangat terbatas. Tapi dari keterbatasan itu mereka melahirkan pemikiran-pemikiran yang sampai hari ini masih kita pelajari.
Sekarang? Dengan segala kemudahan yang ada mana pemikiran besar yang lahir? Bukan karena tidak ada orang pintarnya. Tapi karena nikmat berpikir sudah hilang. Digantikan kebiasaan mengonsumsi tanpa mencerna, scroll tanpa merenung, tahu banyak hal tapi tidak benar-benar memahami satu pun.
Itu tanda sakit akal
Lalu lihat nikmat bersosialnya, orang kumpul tapi sibuk dengan layarnya masing-masing. Punya ribuan teman online tapi tidak punya satu pun yang bisa ditelpon jam dua malam. Cemas ada di mana-mana, tapi karena semua orang merasakannya, ia malah terasa normal. Tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang perlu disembuhkan.
Lanjut ….









