OPINI, Suara Jelata— Tahun ini menjadi libur yang berkepanjangan setelah pemerintah menetapkan cuti bersama. Antusias masyarakat menyambut kesempatan itu telah membeludak dengan adanya libur panjang.
Adanya seruan agar para perantau tidak mudik saat Idul Fitri, pemerintah juga menaikan harga tiket transportasi seperti pesawat dan kereta api. Hari ini, pemerintah menetapkan cuti bersama dikompensasi dengan waktu yang berbeda.
Libur panjang kali ini menjadi semacam pengganti atas ketiadaan cuti bersama pada perayaan Idul Fitri tahun ini.
Di tengah pandemi, tingkat mobilitas penduduk yang tinggi memicu kekhawatiran dengan masih merebaknya wabah ini.
Tapi dengan menyikapi hal tegas terhadap arus masyarakat yang memanfaatkan tahun ini sebagai libur panjang, kita bisa melihat persepsi yang tidak realitistis terhadap tatanan perekonomian yang semakin anjlok akibat pandemi.
Dan masyarakat merasakan itu, keterkaitan antara perekonomian dan polemik pendidikan di tengah pandemi seakan-akan semua merosok drastis.
Konstalasi perekonomian dan oposisinya pun tak bisa direncanakan, akan tetapi masyarakat yang terkena dampak menggunakannya untuk menyikapi kondisi tertentu dengan melihat celah pendapatan.
Ketika perekonomian dipastikan terjadi resesi, maka hal yang harus dilakukan masyarakat untuk memastikan perkonomiannya stabil, yakni bekerja di tengah wabah ini.
Melihat perekonomian di tengah pandemi, masyarakat memanfaatkan libur panjang menjadi kebutuhan pangan untuk kehidupannya. Terlebih di bagian yang dimana masyarakat sangat terpukul akibat pandemi.
Perekonomian tidak hanya mempersoalkan angka atau nominal, akan tetapi dampak sosial yang terjadi di masyarakat.
Costumer untuk penginapan mengalami lonjakan di tengah pandemi dengan melakukan reservasi di tahun ini. Dengan peningkatan pemesanan hunian di hari libur yang berkepanjangan, sangat bermanfaat sebagai penutup kerugian di tengah pandemi setelah hunian itu menjadi salah satu bagian industri yang terdampak pembatasan aktivitas manusia.
Dengan melonjaknya aktivitas manusia di libur yang berkepanjangan sangat berdampak, walaupun berbeda dengan waktu sebelumnya. Dan apabila terjadi resesi, perkonomian yang saat ini turun drastis akan perlahan naik atau pun sebaliknya menurun.
Efek dari perekonomian yang melonjak dari libur panjang ini tentunya harus disertai kewaspadaan dan antisipasi, agar tidak menimbulkan klaster baru penyebaran wabah.
Karena itu, dengan peraturan protokol kesehatan ketat, harus dijalankan secara prosedural dan proaktif, termasuk perlunya tes rapor atau awan agar terhindar dari klaster baru.
Tes rapid swab akan menjadi salah satu seleksi untuk mengetahui seseorang apakah orang tersebut bisa atau tidak melanjutkan perjalanannya di tengah pandemi, ataukah dikarenakan ada warga terinfeksi Covid-19 tanpa gejala (mungkin) atau OTG. Tes rapid swab ini sekaligus sebagai langkah awal untuk melakukan pelacakan bila ditemukan pemudik positif Covid-19.
Keterpurukan masyarakat di tengah pandemi dengan kondisi perekonomian yang belum tentu naik atau stabil, mengupayakan aktivitas bisnis memang sangat dibutuhkan.
Ada beberapa poin menunjukkan persoalan yang bisa berdampak pada sistem sosial, seperti jumlah warga miskin dan pengangguran semakin banyak di luar sana.
Di sisi lain, tabungan masyarakat juga ikut terkuras. Mau tidak mau, perekonomian memang harus dibangkitkan, antara lain dengan peningkatan mobilitas.
Tetapi, upaya itu tentu jangan sampai tidak mengikuti protokol kesehatan secara prosedural yang sudah ditetapkan pemerintah. Tetap pake masker dan jaga jarak, karena kesehatan nomor 1
Penulis: Andi Badrudthamam AR, AKS Legas School
Tulisan tersebut diatas merupakan tanggung jawab penuh penulis








