Memaknai “Sajen” Sebelum Panen

Opini
"Sajen Wiwit" dalam tradisi memulai panen padi. (foto: Donny Mahendra Eggers)

Suara Jelata Sebuah tulisan, mengingatkan saya pada sebuah tradisi yang sering saya temukan di saat masih anak-anak, namun kini jarang saya temui. Tulisan ini saya ambil dari unggahan di Facebook akun teman saya Donny Mahendra Eggers, pada tanggal 9 Januari 2024. Kemudian saya tulis kembali dengan beberapa tambahan dan perubahan ejaan.

Kata “Sajen” (bahasa Jawa) berasal dari kata dasar “saji”, wujudnya dikatakan “sajian” yang berubah menjadi “sajen”. “Sajen” (makanan siap dinikmati) dalam tradisi mengawali panen (biasanya padi) disebut juga dengan istilah “sajen wiwit” (permulaan), artinya tradisi untuk mengawali panen.

“Sajen Wiwit” menjadi salah satu tradisi budaya anak negeri. “Pitutur Luhur” (ajaran luhur) dan “Patuladhan” (contoh, teladan) para leluhur yang memuat “adab kasih” dan “etika welas” untuk menghormati Sang Pencipta Gusti Allah Subhanahu Wa Ta’ala – alam semesta – sesama manusia – dan makhluk lain penghuni “jagad” lainnya.

“Sajen” adalah sajian persembahan kepada Sang Hyang Tunggal Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Mencipta segalanya, Yang Menguasai segalanya, Yang Memberikan segalanya sebagai ungkapan syukur dan pujian kepada Dia Yang Maha Kaya Raya dan Maha Welas Asih kepada siapa pun (tak pilih kasih) asalkan mau berusaha dan berupaya.

“Sajen” juga dipersembahkan kepada semua unsur yang membantu tumbuh kembangnya “Tetanduran” (tanaman) hingga menghasilkan panenan – kepada alam semesta: matahari, bumi, langit, angin, air dan hujan – dan makhluk lainnya.

“Sajen” juga diberikan kepada serangga, makhluk, jasad-jasad dan rabuk yang memberi kesuburan. “Sajen” diberikan pula kepada makhluk lain yang tak kasat mata yang ikut serta menjaga keseimbangan semesta dengan bermacam-macam daya yang memungkinkan panenan aman dan berfaedah bagi manusia.

“Panenan” (hasil panen) adalah hasil usaha kerja giat dan keringat manusia yang bekerja dengan memberikan “sajen” sebelum panen. Maksudnya manusia diingatkan bahwa meskipun panenan itu hasil usaha dan keringatnya sendiri namun jangan melupakan “berbagi” (bersedekah). Bersedekah ini ditujukan kepada 4 (empat) unsur yang ada di alam semesta yang melingkupi kita.

  1. Bersedekah kepada sesamanya terutama kepada mereka yang membantu berproses dan menolong ikhtiar usahanya sehingga menghasilkan panenan.
  2. Bersedekah kepada alam semesta dengan ikut memelihara kelestariannya. Supaya hasil usahanya di kemudian hari dan panen selanjutnya tetap melimpah ruah.
  3. Bersedekah kepada makhluk lain, seperti serangga dan jasad-jasad lain yang membantu proses pertumbuhan “tetanduran”-nya.
  4. Bersedekah kepada jiwa-jiwa para leluhur dan makhluk tak kasat mata yang telah memberikan warisan budaya, tradisi dan pembelajaran menata keseimbangan alam dengan mendoakannya. Semoga bermanfaat!

Narwan, S.Pd
Peminat masalah budaya,
Tinggal di Kota Magelang

Dapatkan update berita pilihan setiap hari dari suarajelata.com.

Mari bergabung di Halaman Facebook "suarajelata.com", caranya klik link Suara Jelata, kemudian klik ikuti.