DAERAH

Ngingsor Kresem: Saat Wartawan dan Aktivis Brebes Sepakat Dinginkan Suasana

×

Ngingsor Kresem: Saat Wartawan dan Aktivis Brebes Sepakat Dinginkan Suasana

Sebarkan artikel ini
Aktivis Brebes, Deden Sulaiman. (Istimewa).

BREBES JATENG, Suara Jelata Puluhan wartawan dan aktivis di Kabupaten Brebes menyepakati komitmen menjaga stabilitas sosial melalui silaturahmi halalbihalal bertema ‘Ngingsor Kresem Adem Ayem’ di Jalan Proklamasi Kelurahan Pasarbatang, Brebes,  Selasa (7/4/2026).

Pinggir Jalan Proklamasi No. 71, Brebes, mendadak riuh. Bukan oleh orasi atau debat panas yang biasa mewarnai dinamika kota, melainkan oleh gelak tawa puluhan jurnalis dan aktivis yang melepas rindu pasca-Lebaran.

Scroll untuk lanjut membaca
Scroll untuk lanjut membaca

Selasa pagi itu, mereka berkumpul di bawah naungan pohon kersem atau yang akrab disebut ‘kresem’ oleh warga lokal dalam balutan tajuk filosofis: “Sorsem Adem Ayem”.

Pertemuan ini melampaui sekadar seremoni jabat tangan. Di tengah arus informasi yang kian kencang, insan pers dan aktivis di ‘Kota Bawang’ ini memandang perlu adanya frekuensi yang sama untuk menjaga ketenangan warga.

Suasana tampak cair. Hadir di tengah kerumunan, Ketua KONI Brebes Abdul Aris Asaad yang akrab disapa Gus Hada, serta Ketua Umum Persab, Asrofi.

Kehadiran tokoh-tokoh ini mempertegas bahwa urusan menjaga iklim daerah adalah kerja kolektif lintas sektoral.

Deden Sulaeman, yang memberikan sambutan mewakili suara aktivis, menitipkan pesan mendalam.

Ia mengingatkan bahwa tinta jurnalis memiliki kekuatan ganda; bisa menjadi pemadam api atau justru penyulut bara.

Bagi Deden, tanggung jawab moral untuk menjaga harmoni tidak bisa ditawar lagi.

“Adem ayem bukan hanya harapan, tetapi harus menjadi gerakan bersama. Media memiliki kekuatan besar melalui goresan tinta, bisa menenangkan, menginspirasi, sekaligus menyatukan,” tegas Deden di hadapan rekan-rekan.

Melalui momentum ini, para kuli tinta di Brebes berikrar untuk tetap menyajikan karya jurnalistik yang tidak hanya mengejar kecepatan, tetapi juga sisi edukatif dan inspiratif.

Mereka meyakini bahwa sinergi yang kokoh antara masyarakat, media, dan pemerintah daerah adalah kunci utama untuk membendung hoaks dan membangun kembali kepercayaan publik yang sehat. (Olam).