BREBES JATENG, Suara Jelata – Warga Desa Randusanga Kulon, Kecamatan/Kabupaten Brebes, meradang akibat penyalahgunaan mobil siaga desa yang diduga untuk kepentingan pribadi kepala desa.
Hal itu dianggap memicu hambatan layanan kesehatan darurat hingga memaksa warga meminjam bantuan transportasi dari desa tetangga.
Fasilitas vital berupa mobil siaga yang seharusnya bersiap di kantor desa untuk menjemput warga dalam kondisi darurat, justru disulap menjadi kendaraan operasional harian sang kepala desa.
Padahal, negara telah membekalinya dengan motor Yamaha NMax untuk urusan dinas.
Ironi ini memuncak saat seorang warga di lingkungan RT 02 RW 01 membutuhkan pertolongan medis segera.
Alih-alih mendapatkan jemputan cepat, keluarga pasien harus menelan pil pahit. Unit mobil yang mereka harapkan tidak ada di tempat karena sedang dibawa sang Kades untuk urusan yang tak ada sangkut pautnya dengan medis.
Demi menyelamatkan nyawa, warga terpaksa ‘mengemis’ bantuan ke desa tetangga.
“Ada warga butuh mobil untuk berobat ke rumah sakit, terpaksa pakai mobil Siaga Randusanga Wetan karena dipersulit saat mau menggunakan mobil desa sendiri,” ungkap salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Kekecewaan ini bukan tanpa alasan kuat. Tokoh masyarakat setempat, Ustad Imam Khambali, membenarkan bahwa pelayanan di desanya memang sedang tidak baik-baik saja.
Ketidakpuasan warga mencakup banyak aspek, mulai dari urusan administrasi hingga kebutuhan darurat.
“Untuk pelayanan di masyarakat juga sulit. Kadang bapak RT ke desa mau minta tanda tangan saja susah, apalagi urusan krusial lainnya,” ujar Imam.
Tragedi nyata bahkan sempat mewarnai carut-marutnya fasilitas ini.
Karyadi, warga RT 06 RW 04, menceritakan kisah pilu dari RT 05. Seorang warga dikabarkan meninggal dunia setelah upaya keluarganya meminjam mobil siaga terbentur prosedur yang berbelit-belit.
Saat detik-detik kritis itu, bantuan tak kunjung datang karena unit mobil tidak berada di posisinya.
“Mobil yang dibeli dari uang rakyat itu seolah berubah fungsi jadi milik pribadi. Padahal urgensinya soal nyawa. Warga Blok Temperan bahkan harus minta tolong ke Desa Kedunguter demi bisa ke rumah sakit,” kata Karyadi saat ditemui Sabtu (11/4/2026).
Menanggapi gelombang protes tersebut, Kepala Desa Randusanga Kulon, Afan Setiono, memberikan pembelaan.
Saat ditemui di kediamannya pada Minggu (12/4/2026), ia mengeklaim penempatan mobil di rumah pribadinya adalah hasil Musyawarah Desa (Musdes).
Afan berdalih faktor keamanan menjadi alasan utama karena kantor desa belum memiliki garasi yang memadai untuk menghindari risiko pencurian.
“Mengingat belum adanya garasi atau tempat parkir yang memadai dan aman di kantor desa pada malam hari,” kata Afan.
Selain itu, menurut dia, untuk memudahkan pengawasan unit agar tetap terjaga dari risiko pencurian atau perusakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
“Kebijakan ini telah melalui mekanisme musyawarah yang melibatkan perangkat desa, tokoh masyarakat, dan perwakilan warga,” katanya.
Namun bagi warga, alasan teknis tersebut tidak sebanding dengan nyawa yang terancam.
Kini, masyarakat mendesak adanya teguran keras dari otoritas terkait agar mobil siaga dikembalikan ke fungsi asalnya: bersiap di garis depan untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kenyamanan pribadi penguasa desa. (Olam).











