MAKASAR SULSEL, Suara Jelata – Puluhan mahasiswa STIEM Bongaya Makassar menggelar aksi unjuk rasa menuntut transparansi anggaran, perbaikan fasilitas, dan penanganan kekerasan seksual tepat pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, Sabtu (2/5/2026).
Suasana peringatan Hari Pendidikan Nasional di Jalan Letjen Mappaodang, Makassar, tidak diisi dengan seremoni formal semata.
Sabtu siang itu, riuh suara orator memecah keheningan kampus STIEM Bongaya. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi bergerak menagih janji pengelola kampus atas tumpukan persoalan yang dianggap belum tuntas.
Isu transparansi menjadi sumbu utama kemarahan mahasiswa.
Mereka mendesak pihak kampus membuka secara gamblang penggunaan anggaran pembangunan yang selama ini dinilai gelap.
Tak hanya soal uang, performa tenaga pendidik pun ikut diseret ke meja tuntutan.
Evaluasi menyeluruh terhadap kinerja dosen menjadi syarat mutlak yang mereka ajukan demi kualitas akademik yang lebih sehat.
Kekesalan mahasiswa memuncak saat membahas biaya keterlambatan pengambilan ijazah yang dianggap tidak memiliki dasar penetapan yang jelas.
“Kami menuntut transparansi dan akuntabilitas, bukan janji,” tegas Wahdiansya, koordinator aksi, di tengah lingkaran massa.
Ia menekankan bahwa gerakan ini adalah bentuk kontrol nyata mahasiswa agar kampus tidak melenceng dari fungsinya sebagai lembaga pendidikan yang bersih.
Persoalan fasilitas juga menjadi sorotan tajam. Mahasiswa memberikan tenggat waktu tujuh hari bagi birokrasi kampus untuk melakukan perbaikan nyata.
Namun, yang paling krusial dari rentetan tuntutan tersebut adalah jaminan keamanan bagi mahasiswa, khususnya terkait penanganan kekerasan seksual.
Mereka mendesak adanya mekanisme yang transparan dan berpihak pada korban, serta penguatan sistem keamanan melalui pengadaan CCTV di titik-titik strategis yang selama ini terabaikan.
Meski pintu audiensi sempat dibuka oleh pihak kampus, massa aksi tetap pada pendiriannya.
Bagi mereka, komitmen tanpa realisasi hanya akan menjadi angin lalu.
Suasana aksi tetap terkendali hingga akhir, namun pesan yang ditinggalkan sangat tajam: jika dalam waktu dekat tidak ada perubahan signifikan, gelombang massa yang lebih besar siap kembali menduduki kampus. (Wahyuni).











