OPINI, Suara Jelata— Miris dan sangat miris, kampus Muhammadiyah yang dimana memiliki hak otonomi kampus di intervensi oleh salah satu Pimpinan Muhammadiyah agar memenangkan pasangan calon mereka.
Calon itu berlindung atas nama pimpinan Muhammadiyah. Muhammadiyah dijadikan sebagai tameng untuk memuluskan kepentingan-kepentingan mereka.
Netralitas yang dikeluarkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah tidak berlaku bagi Pimpinan Wilayah maupun pimpinan kampus Muhammadiyah.
Mereka diduga melegalkan segala cara demi kepentingan mereka. Mereka menghalalkan segala cara agar mereka terpilih untuk duduk di kursi anggota DPD.
Pendidikan, kau hanya sebatas nama, kau hanya sebatas tempat, sekarang wujud dan rupamu sudah berubah, kau sekarang ditunggangi oleh kepentingan politik.
Pendidikan sekarang kau bukan hanya sebagai lahan untuk menimbah ilmu, kau sekarang menjadi MultiTask. Kau bisa menjadi lembaga pendidikan, dan lembaga poltik.
Seruan tolak kami di bungkam dengan kata indah nan halus “Jangan menghalangi”, sebuah racun, sebuah doktrin, sebuah madu yang berisi racun, racun untuk mahasiswa, racun untuk lembaga pendidikan.
Mereka menjadikan pendidikan sebagai ranah kampanye, bahan dan permainan politik praktis, selagi mampu dijadikan ekspolitasi suara dan mobilisasi massa untuk meraup keuntungan.
Nampak bahwa kebodohan mendasar dari dulu di sembunyikan oleh kampus tak kala mereka berkoar-koar memberikan pemahaman dan pendidikan berfikir dan malah adanya kebodohan yang di pelihara oleh mereka.
Tak hebat lagi pimpinan-pimpinan kampus yang menjelma seakan seperti malaikat, mengitruksikan kepada seluruh pihak untuk berkampanye dan bertanggung jawab.
Jelas bahwa ini seakan memberikan peluang kepada mahasiswa untuk menjelma sebagai watak penjilat.
Seburuk apapun kampus menjelma menjadi lembaga pendidikan, akan tercium bau busuk yang di penjarakan oleh mereka.
Sadar atau tidak sadar kampus lagi-lagi memperlihatkan kebodohanya dengan memberikan instruksi berbeda tetapi tujuan sama, jadi nampak lah kedunguan itu yang menjelma sebagai dasar keburukan kampus.
Penulis: Muhammad Irfan Hidayat, Himpunan Mahasiswa Administrasi Negara (HIMARA) STISIP Muhammadiyah Sinjai.
Isi Dari Opini Merupakan Tanggung Jawab Penuh Dari Penulis








