Laporan : Rismawati Flara, Mahasiswi KPI UIN Alauddin Makassar
GOWA, Suara Jelata—Senja itu di sepanjang jalan depan kampus UIN Alauddin Makassar mulai dipadati oleh mahasiswa, baik yang sedang berjualan maupun yang sedang berburu takjil.
Dari arah pintu dua, terlihat puluhan lapak pedagang makanan dan minuman berjejeran di sepanjang jalan depan kampus 2 UIN Alauddin, Samata, Gowa.
Para mahasiswa menyediakan berbagai macam takjil buka puasa untuk dijual sebagai bentuk penggalangan dana dalam rangka melaksanakan program kerja.
Setiap hari pukul 16:00 WITA, sekumpulan mahasiswa mulai berdatangan di pinggir jalan depan kampus UIN Makassar.
Ada yang membawa termos, es batu dan adapula yang membawa gelas cup plastik.
Salah satu lapak di pinggir jalan tersebut dikerumuni oleh mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin, Filsafat, dan Politik.
Lapak yang ia tempati tidak terbilang mewah, hanya bermodalkan satu meja dan satu kursi.
Jualannya berupa es jelly yang telah dimasukkan ke dalam gelas disusun rapi di atas meja.
Sebagian dari mereka bersorak untuk menarik perhatian pembeli dan menawarkan dagangannya kepada setiap orang yang lewat. Es jelly seharga Rp 5.000 satu porsi merupakan harga yang sangat terjangkau oleh kantong mahasiswa.
Menjual takjil pada bulan Ramadhan merupakan salah satu usaha dan cara efektif mahasiswa memperoleh dana untuk menyelenggarakan salah satu program kerja mereka, seperti Kongres Forum Mahasiswa Studi Agama-Agama se-Indonesia.
Setiap hari mereka membuat takjil sebanyak 25 porsi, kadang semua takjil terjual habis, tapi kadang juga ada yang tersisa. Jika semua takjil laku terjual, maka mereka akan meraup keuntungan sebesar Rp. 75.000.
Antusias dan semangat juang yang mereka lakukan agar dagangannya cepat laku dengan memberikan seruan kepada mahasiwa ataupun masyarakat sekitar yang sedang berlalu lalang di depan lapak mereka.
Hal tersebut disertai dengan senyuman yang terlihat jelas di raut wajahnya sambil menawarkan minuman yang tersedia.
“Kak belliki kodong penggalangan danaku cuman Rp 5000, dijamin enak dan segar, sangat cocok untuk menu buka puasa ta”, pinta salah seorang mahasiswa penuh harap.
Ketika seorang pembeli datang menghampiri untuk membeli takjil mereka, rasa senang dan puas akan langsung terlintas dalam hati mereka. Hal tersebut dirasakan langsung oleh Nursakinah.
“Kami senang ketika ada pembeli langsung memborong jualan kami, dan ketika ada dosen mengapresiasi usaha kami lalu membeli 2-5 porsi dagangan kami”. ujar Nursakinah.
Menjual takjil buka puasa di pinggiran jalan biasanya dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga, tapi kini mulai dilakukan oleh para mahasiswa demi mendapatkan dana dari hasil jualannya itu.
Modal awal yang mereka gunakan merupakan kontribusi dari para anggota HMJ. Dengan modal tersebut, mereka mampu membeli bahan-bahan untuk membuat es jelly.
Bahan yang digunakan untuk membuat Es jelly sangat sederhana. Mereka hanya menyiapkan jelly, gula, susu, nata de coco, sirup, biji selasih, es batu, dan gelas.
Pembuatan es campur dibuat terlebih dahulu di rumah seorang mahasiswa, kemudian membawanya ke depan kampus UIN Alauddin Makassar, Samata untuk di jajakan.
Hilir mudik kendaraan yang berlalu dengan suara bisingnya membuat mahasiswa semakin bersemangat untuk menjajakan dagangannya sampai laku.
Kelompok mahasiswa yang satu dengan kelompok yang lainnya saling bersahut-sahutan dan bersaing untuk menarik perhatian para pelanggan yang lewat, baik pejalan kaki maupun pengendara sepeda motor.
Banyaknya mahasiswa yang berdiri dalam satu lapak baik penjual maupun pembeli, membuat jalan di depan kampus II UIN Makassar jadi macet.
Namun dengan kegiatan fundraising seperti itu, dapat menumbuhkan jiwa kewirausahaan dalam diri mahasiswa.
Dengan jiwa kewirausahaan mahasiswa dapat memunculkan jiwa inovatif, dan kreatifnya serta kuat mental dalam menghadapi setiap karakter pembeli yang datang.
“Segala sesuatu harus dimulai dari hal-hal kecil. Untuk menjadi seorang pedagang atau pebisnis yang berhasil kita harus memiliki mental berjualan. Kita juga harus belajar sejak dini untuk menghadapi para pelanggan,”tutupnya.
Editor: Izhar











