Opini

Memaksimalkan Informasi dalam Keterbatasan Akses

×

Memaksimalkan Informasi dalam Keterbatasan Akses

Sebarkan artikel ini

OPINI, Suara Jelata—  Virus Covid-19 (Corona Virus), mulai masuk dan diketahui di Indonesia pada Senin 2 Maret 2020 yang diumumkan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Virus yang sebelumnya sudah banyak memakan korban di negara-negara lain termasuk China negara pertama yang terkena virus ini, dan saat ini telah banyak memakan korban jiwa di Indonesia.

Keterbatan bertatap muka secara langsung membuat sebagian orang menjadi sulit untuk berkomunikasi termasuk dalam kerja jurnalis, adanya virus ini membuat banyak perubahan bagi seluruh masyarakat yang terkena dampaknya. Ketentuan yang ditetapkan untuk stay at home membuat pekerjaan sebagian orang terhambat.

Scroll untuk lanjut membaca
Scroll untuk lanjut membaca

Bukan hanya itu, virus ini membuat perubahan drastis dalam sistem kerja para jurnalis (wartawan). Dikeluarkannya peraturan Physical Distancing membuat para wartawan harus di rumah dan bekerja di rumah saja, hingga membuat pekerjaan mereka agak lebih sulit dalam mendapatkan informasi yang lebih aktual.

Dengan keadaan sekarang wartawan tidak bisa bekerja seperti sebelumnya lagi untuk menghindari penyebaran virus ini, dan ini membuat pekerjaan para wartawan menjadi terhambat.

Selama pandemi ini kebanyakan wartawan mengerjakan tugasnya dengan cara berbasis online, seperti pada saat mewawancarai narasumber dengan menggunakan aplikasi tertentu seperti Zoom, Google Meet dan lainnya. Namun kadang terganggu dengan masalah jaringan yang kadang kurang mendukung.

Pola penulisan jurnalistik atau kode etik tidak boleh berubah walaupun di masa pandemi ini ataupun New Normal Life. Keterbatasan para wartawan saat ini untuk bertemu dengan narasumber secara langsung membuat mereka harus mencari informasi melalui media online dan kadang tidak memiliki informasi yang valid, sehingga kesalahan berpeluang besar dalam sistem kerja ini.

Di masa pandemi ini para wartawan diharuskan untuk cepat dalam belajar, karena cepat atau lambat semua akan sadar betapa besar pengaruh dari media sosial tersebut. Seperti saat ini media online merupakan alat trasportasi yang digunakan wartawan untuk mendapatkan informasi dari narasumber.

Adanya perubahan di Era New Normal ini membuat honor para wartawan terganggu, karena adanya pengurangan gaji, hingga tunjagan untuk mereka juga terganggu.

Para wartawan harus menata dan merubah gaya hidup baru (New Normal) ditengah pandemi ini. Karena tidak semua narasumber memiliki handphone atau aplikasi yang digunakan, dan misalkan kebebasan pers jadi untuk diterapkan di masa pandemi ini akan sedikit lebih mudah karena dapat bertatap muka secara langsung.

Walaupun adanya kebebasan pers untuk para jurnalis, tidak merubah keterbatasan mereka untuk mencari infomasi dengan bertatap muka secara langsung kepada narasumber. Tidak seperti sebelumnya, kebebasan pers sangat berlaku bagi mereka untuk mendapatkan informasi mengenai gempa, bajir, maupun tsunami, dan itu tidak berlaku di masa pandemi ini.

Namun pada saat wartawan turun langsung ke lokasi untuk mendapatkan informasi mereka harus tetap menaati peraturan yang di terapkan pemerintah seperti Social Distancing, memakai masker, dan yang lainnya agar mencegah tersebarnya Virus Covid-19 ini.

Menjadi seorang jurnalisme di masa pandemi ini sebenarnya sangat berdampak buruk bagi mereka, bukan hanya berdampak pada honor, namun juga pada kesehatan diri mereka masing-masing.

Oleh: Maya Sari (Mahasiswi Semester 6 Prodi Ilmu Komunikasi UMI) 

* Tulisan Ini Merupakan Tanggung Jawab Penulis