OPINI: Antara Lomba dan Kemerdekaan Hakiki

  • Whatsapp
Penulis

OPINI, Suara Jelata— Momen HUT RI yang selalu dirayakan setiap tahun untuk beberapa kalangan tentu mengasyikan, menjadi cerita yang tak terlupakan. Dari mulai balita, anak-anak hingga orang tua.

Begitupun lomba yang diadakan masyarakat di wilayah Kabupaten Bandung, tepatnya di daerah Cileunyi beberapa hari sebelum pesta kemerdekaan berlangsung.

Muat Lebih

Mereka ikut serta dalam kegiatan menyambut HUT RI ke 74 dengan ikut berkontribusi lomba gerak jalan santai yang diadakan oleh pemerintah kecamatan Cileunyi, Rabu, (07/08/2019).

Menurut Camat Cileunyi, Solihin S.Sos melalui Sekretaris Camat yaitu Akhmad Rifa’i S.Sos M.M, acara kegiatan gerak jalan santai ini dimaksudkan untuk memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 74.

Acara gerak jalan santai ini, merupakan agenda rutin untuk memperingati dan mengenang jasa para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan negara ini, sekaligus sebagai sarana silaturahim antara jajarannya dengan para instansi yang ada di kecamatan Cileunyi. Acara gerak jalan santai diikuti kurang lebih 2000 peserta dari berbagai instansi dinas yang ada di kecamatan Cileunyi (bandungraya.net).

Kemerdekaan Indonesia memang dikenal sebagai salah satu momen kebangsaan yang sangat membutuhkan perjuangan. Makna dan artinya sangat besar bagi masyarakat Indonesia dengan banyak mengorbankan para pahlawan yang ikut berjuang, terutama para ulama dan santri. Disinilah pentingnya kita memahami makna kemerdekaan yang hakiki.

Kemerdekaan bukan hanya menyangkut hal fisik semata, melainkan lebih dari itu.

Apa yang dilakukan masyarakat Jawa Barat dan wilayah lain di Indonesia dengan berbagai lomba yang dilakukan, perlu dicermati secara mendalam. Kegiatan dengan beragam lomba, hukum asalnya adalah boleh atau mubah selama tidak bertentangan dengan hukum syara dan tidak mengarah kepada kesia-siaan belaka.

Fakta yang terjadi di tengah masyarakat saat merayakan HUT RI setiap tanggal 17 Agustus nyatanya ada pemandangan lucu tapi sebenarnya salah, misal lomba sepak bola yang dilakukan kaum bapak-bapak dengan menggunakan daster atau menggunakan wig dan make-up perempuan.

Ada juga penampilan berupa pentas seni dengan mengumbar aurat serta ikhtilat yang jelas-jelas dalam kacamata Islam ini adalah sebuah keharaman di samping sebagai aktivitas penuh kesia-siaan.

Jika mengingat bahwa rakyat Indonesia sudah terbebas dari penjajahan fisik yang dilakukan imperialis Belanda dan Jepang, memanglah sudah terbebas. Namun, melihat kondisi saat ini dimana masyarakat Indonesia masih tergantung kepada pihak asing dalam berbagai hal terlebih lagi politik, ekonomi dan hukum.

Banyak dari SDA di negeri ini dikuasai asing. Indonesia tidak memiliki kedaulatan penuh untuk mengelola sendiri. Sebut saja Freeport, exxon mobile, aqua, indosat, dan lain-lain adalah fakta kecil yang terpampang di depan mata. Dengan demikian, kondisi masyarakat Indonesia sebetulnya masih terjajah. Terjajah pemikiran, budaya, ekonomi, politik, hukum, dan ideologi.

Dalam pandangan Islam, merdeka itu adalah terbebas dari penghambaan kepada makhluk ciptaan Allah SWT. Manusia sebagai makhluk Allah SWT telah dianugerahi keistimewaan tersendiri yang tidak diperoleh oleh makhluk-makhluk lainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan Sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (TQS. Al-Isra’ : 70).

Sejarah peradaban Islam telah mencatat ketika Rib’i bin Amir radhiyallahu anhu, salah seorang utusan pasukan Islam dalam perang Qadishiyah ditanya tentang perihal kedatangannya oleh Rustum, panglima pasukan Persia, ia menjawab, “Allah mengutus kami (Rasul) untuk memerdekakan manusia dari penghambaan manusia kepada manusia menuju penghambaan manusia kepada Rabb manusia, dari sempitnya kehidupan dunia kepada kelapangannya, dari ketidakadilan agama-agama yang ada kepada keadilan Islam.” (Lihat Al-Jihad Sabiluna hal. 119).

Dari riwayat di atas, nampak bahwa Islam memandang kemerdekaan bukan dari satu sisi saja, melainkan dari semua sisi, baik dari segi lahiriyah maupun batiniyah, yakni kemerdekaan atau bebas dari penghambaan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala menuju tauhid untuk ranah batiniyah dan kemerdekaan dari kesempitan dunia dan ketidakadilan menuju kelapangan dan keadilan Islam dalam ranah lahiriyah.

Sehingga bisa dikatakan bahwa makna kemerdekaan dari ajaran Islam adalah kemerdekaan yang sempurna bagi umat manusia.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Al-Aqidah Al-Washithiyyah berkata, “Ubudiyyah (penghambaan) kepada Allah adalah kemerdekaan yang hakiki, (sehingga) orang yang tidak menyembah kepada Allah semata, maka dia adalah hamba (budak) bagi selain Allah”.

Jika ia masih menjadi budak, tentu saja belum pantas disebut merdeka. Perbudakan akan terus terjadi dan dialami rakyat negeri ini secara umum, terkhusus kaum muslimin.

Dengan demikian, satu-satunya solusi terbebas dari cengkraman kaum imperialis (fisik dan non-fisik) baru dapat kita rayakan saat kaum imperialis itu terusir oleh syariat Allah SWT yang akan diterapkan dalam sebuah institusi Islam sesuai thariqah Rasulullah yakni Khilafah Rasyidah ala manhaj an-nubuwah.

Itulah momen terindah dengan kemerdekaan hakiki.
Wallahu a’lam bi ash-shawab

Penulis: Nurdila FK, pelajar di sebuah sekolah menengah atas

Tulisan tersebut merupakan tanggung jawab penuh penulis

Loading...
loading...
  • Whatsapp

Pos terkait