OPINI, Suara Jelata— Tiga bulan terakhir, kehidupan kita secara bertubi-tubi dirasuki oleh wabah misterius yang kini akrab disapa si Covid-19.
Semua lini dibuatnya pontang-panting, mulai dari pendidikan, ekonomi, interaksi, literasi, hingga hal paling fundamental dalam diri setiap insan; relasi dengan Tuhan.
Wabah ini memaksa manusia untuk beraktivitas secara terbatas dari tempat-tempat tertentu, dan yang paling ideal adalah dari rumah. Semua hingar-bingar, gelak tawa, hingga senda-gurau semua nyaris dilakukan via online.
Pelajar yang berkoar dengan banyaknya tugas pasca menuntut ilmu secara daring, buruh-buruh yang kehilangan mata pencaharian karena moda transportasi yang dibekukan sementara, seseorang yang rindu keluarga dan pujaan hati, dan manusia-manusia yang rindu suasana Ramadhan, seperti biasanya adalah sampel nyata yang bisa kita lihat asbab wabah ini.
Terkhusus sampel terakhir, saya pun merasakan hal yang sama; rindu dengan suasana ramadhan seperti yang dulu-dulu.
Sejatinya, Ramadhan akan tetap menjadi bulan yang mulia bagaimanapun kondisinya, dan hal inilah adalah sesuatu yang mutlak. Namun nyatanya, banyak yang tidak menyadari.
Gema kalimat “Ramadhan kali ini lain-lain karena tidak ada bukber”, “Lain-lainnya ku rasa tidak tarwih di masjid”, atau “Gara-gara corona tidak adami lagi orang kasi bangun sahur kek biasa” adalah beberapa contoh dari mereka yang tidak menyadarinya.
Padahal, esensi Ramadhan tidaklah demikian. Lantas, apakah esensi ramadhan hilang ditelan wabah? Tidak sama sekali! Mengapa? Wabah ini bisa saja merenggut momen buka puasa dan sahur bersama dengan teman-teman atau sahabat, tapi tidak akan mampu merenggut momen buka bersama dengan keluarga.
Ingat, momen buka dan sahur bersama dengan teman-teman sahabat cenderung menghadirkan ghibah dan pembahasan unfaedah daripada nilai silaturahmi.
Wabah ini bisa saja membuatmu jauh dari teman, sahabat, maupun kerabat tapi in syaa Allah akan lebih mendekatkan diri kepada-Nya; lebih memperbanyak ibadah, punya banyak waktu untuk membuka kitab-Nya, dan bercengkrama dengan keluarga adalah beberapa jalan mengakrabkan diri dengan-Nya.
Wabah ini bisa saja me-lock down pekerjaanmu, tapi tidak akan mampu menghalangi rezeki-Nya dan; wabah ini tidak akan menutup hati mereka yang memang hanya bergantung kepada-Nya untuk terus berfikir dan berbuat yang muhsin.
Ramadhan bukan soal seremoni, bukan pula soal hegemoni, tapi soal bagaimana memaknainya sebagai suatu bulan mulia penuh berkah yang akan menjadikan diri lebih baik lagi dari segi fikiran maupun tindakan.
Stay Safe.
Stay Alert.
Stay on your kind way.
Penulis: Muh. Reza Eka Saputra, Mahasiswa jurusan akuntansi UIN Alauddin Makassar.
Tulisan tersebut di atas merupakan tanggung jawab penuh penulis








