Kisah

Kisah Guru ‘Sampan’ di Sinjai, Mengugah Naluri Empati Kapolres ‎

×

Kisah Guru ‘Sampan’ di Sinjai, Mengugah Naluri Empati Kapolres ‎

Sebarkan artikel ini

Sinjai, Suara Jelata-–Di sebuah sudut Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, keterbatasan infrastruktur bukan sekadar catatan pembangunan, melainkan realitas yang dihadapi setiap hari.

‎Di wilayah pesisir yang dipisahkan aliran sungai tanpa jembatan permanen, seorang guru memilih mengambil peran lebih dari sekadar pendidik dengan menjadi pengantar keselamatan bagi murid-muridnya.

‎Guru itu adalah Ali Mappaompo, pengajar Pendidikan Agama Islam (PAI) di SDN 139 Larea-rea, Kecamatan Sinjai Utara.

‎Setiap pagi dan sore, ia mengayuh perahu kayu sederhana, menyeberangi muara Tangka untuk memastikan anak-anak didiknya bisa bersekolah dan pulang ke rumah dengan selamat.

‎Aktivitas tersebut telah dilakukannya secara rutin, di tengah derasnya arus dan minimnya sarana penunjang.

‎Aksi kemanusiaan ini kemudian mendapat perhatian dari aparat kepolisian.

‎Kapolres Sinjai, AKBP Harry Azhar, melalui Sat Polairud Polres Sinjai, menyambangi Ali sebagai bentuk apresiasi atas dedikasinya.

‎Kunjungan tersebut berlangsung pada Kamis (18/12/2025) sekitar pukul 18.00 WITA di Jalan Amanagappa, Kelurahan Lappa, Sinjai Utara.

‎Dalam kesempatan itu, personel kepolisian menyerahkan tali asih sebagai simbol kepedulian terhadap perjuangan seorang guru yang bekerja di tengah tantangan geografis.

‎Menurut Kapolres Sinjai, apa yang dilakukan Ali mencerminkan wajah pendidikan di daerah-daerah yang masih tertinggal infrastruktur.

‎Ketulusan dan rasa tanggung jawab yang ditunjukkan dinilainya layak mendapat perhatian lebih luas.

‎“Pengabdian seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan sering kali berjalan beriringan dengan pengorbanan. Guru tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga memastikan akses anak-anak terhadap pendidikan tetap terbuka,” ujar AKBP Harry Azhar.

‎Ia menambahkan, kehadiran kepolisian dalam konteks tersebut bukan semata urusan keamanan, tetapi juga bagian dari kepedulian sosial.

‎Dukungan kepada tenaga pendidik, menurutnya, merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan generasi muda.

‎Di sisi lain, kisah Ali Mappaompo mencerminkan problem klasik di banyak daerah Indonesia ketimpangan akses pendidikan akibat keterbatasan infrastruktur dasar.

‎Sungai yang seharusnya menjadi jalur kehidupan justru berubah menjadi tantangan harian bagi anak-anak sekolah.

‎Namun bagi Ali, sungai itu bukan penghalang. Dayung yang ia kayuhkan setiap hari menjadi simbol keteguhan dan komitmen seorang pendidik yang menempatkan keselamatan dan masa depan murid-muridnya di atas segalanya.

‎Di antara riak air dan perahu kayu sederhana, tersimpan pesan kuat tentang ketulusan, kepedulian, dan harapan.

‎Sebuah kisah kecil dari Sinjai yang mencerminkan wajah pendidikan Indonesia penuh keterbatasan, namun tidak pernah kehabisan semangat.