Sinjai, Suara Jelata–-Ketua Partai Gerindra Sinjai yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua I DPRD Sinjai, Fachriandi Matoa, menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas wafatnya tokoh politik senior, H. Andi Muchtar Mappatoba, pada Selasa (17/3/2026) malam.
Almarhum mengembuskan napas terakhir di RSUD Sinjai sekitar pukul 22.52 WITA, meninggalkan duka yang mendalam bagi masyarakat, khususnya kalangan legislatif dan dunia pendidikan di Kabupaten Sinjai.
Fachriandi menilai, kepergian Andi Muchtar Mappatoba merupakan kehilangan besar bagi daerah.
Sosok almarhum dikenal sebagai figur yang konsisten memperjuangkan kepentingan masyarakat serta memiliki peran penting dalam perjalanan politik di Sulawesi Selatan.
“Beliau adalah tokoh yang memiliki dedikasi tinggi terhadap daerah. Kiprahnya selama ini tidak hanya dirasakan dalam dunia politik, tetapi juga memberi dampak besar di bidang pendidikan,” ungkap Fachriandi.
Menurutnya, semangat pengabdian yang ditunjukkan almarhum menjadi inspirasi bagi generasi penerus, khususnya para wakil rakyat dalam menjalankan amanah dan memperjuangkan aspirasi masyarakat.
Ia juga menekankan bahwa kontribusi Andi Muchtar Mappatoba dalam merintis dan mengembangkan lembaga pendidikan di Sinjai merupakan warisan berharga yang akan terus dikenang.
“Jejak pengabdian beliau, terutama dalam membangun pendidikan, akan terus hidup dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Sinjai ke depan,” tambahnya.
Di akhir pernyataannya, Fachriandi mengajak seluruh masyarakat untuk mendoakan almarhum agar diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT.
“Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahnya, mengampuni segala kesalahan beliau, dan menempatkannya di tempat yang mulia di sisi-Nya,” tuturnya.
Diketahui, Andi Muchtar Mappatoba merupakan politisi senior yang pernah menjabat sebagai Anggota DPRD Sulawesi Selatan periode 2019–2024 dari Fraksi Gerindra.
Ia juga dikenal sebagai perintis berdirinya STISIP dan STIP Muhammadiyah yang kini berkembang menjadi Universitas Muhammadiyah Sinjai (UMSI).
Lahir pada 22 Mei 1954, almarhum meninggalkan warisan penting dalam dunia politik dan pendidikan.
Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi masyarakat Sinjai.











