OPINI, Suara Jelata–Suatu Perkembangan yang amat Positif, dimulai sekitar tanggal 24 September dan mogah terus berlanjut sampai sekarang. Perkembangan Positif yang dimaksudkan tersebut ialah menggeliatnya api Aktivisme di setiap Kampus, disepenjuru negeri.
Hal ini awalnya dipicuh oleh serangkaian Produksi dan Reproduksui Kebijakan oleh Pemerintah yang diindikasikan sangat timpang dan amat merugikan rakyat.
Oleh karena itu serangkaian Demonstrasi mulai berlangsung di beberapa titik di Tanah air. Yang kebanyakan di lakukan oleh Mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi.
Gejolak ini tentu merupakan Reaksi atas sikap Pemerintah, terutama dalam hal ini para Pemangku Jabatan Legislatif (DPR) yang dinilai tidak Pro terhadap Rakyat.
Walau belum memberikan hasil (Goals) capaian yang sesuai dengan Harapan, Namun kiranya Gejolak Aktivisme Kampus mulai kembali Bangkit.
Ibarat Singa yang baru saja terbangun dari tidur lelapnya, reproduksi Undang-Undang (UU) termasuk revisi yang tidak pro terhadap rakyat, seperti; RUU KPK, RUU Pertanahan, RUU Ketenagakerjaan, RUU KUHP, dan lain-lain.
Hal itu menjadi pemantik kesadaran di kalangan mahasiswa akan keberadaan entitas yang disebut sebagai negara, yang justru pada akhir-akhir ini makin menunjukkan wajah Kebobrokannya.
Mungkinkah negara masih dapat dikatakan sebagai manifestasi dari kekuasaan rakyat, atau sebaliknya, negara justru menjadi Manifestasi Kekuasaan oligarki—kapitalis, dengan selogan kerakyatan yang dijualnya.
Tumpah ruahnya mahasiswa di seluruh penjuru ruas jalan, menjadi momok menakutkan bagi para oligar kekuasaan yang bersemayam di gedung perwakilan rakyat.
Sampai-sampai pada kasus di kota Makassar, terutama aksi demontrasi yang dilakukan oleh sebagaian besar mahasiswa UNM, Long March mulai dari depan gedung Phinisi sampai Fly Over dan terus menuju Kantor DPRD Sulsel.
Kiranya telah menggetarkan setiap jiwa yang turut menyaksikan parade salah satu kekuasaan rakyat sejati tersebut.
Aksi seperti ini tidak hanya terjadi di kota Makassar, namun juga di seluruh penjuru tanah air.
Gelombang tsunami akan datang, dan akan mengobrak-abrik angkuh tembok yang selama ini diklaim sebagai rumah rakyat, namun ternyata hanya di isi oleh para pendusta.
Walau pada akhirnya aksi massa dari mahasiswa yang meneriakkan keadilan, dan suara jeritan rakyat, harus dipukul mundur oleh represifitas aparat yang pada saat itu menampilkan wajah bringasnya. Bak iblis dari neraka.
Namun tidak sekali-kali semangat juang dan api aktivisme yang telah berkobar padam seketika. Justru Jawaban yang ada ialah lawan, lawan, lawan dan teruslah Melawan.
Lirikan Dari Pihak Oposisi dan Petahana.
Dengan Massifnya gerakan mahasiswa, nampaknya juga telah menjadi aroma yang sedap bagi mereka yang haus akan kekuasaan.
Belakangan ini muncul kecenderungan untuk menggiring kalangan mahasiswa ke arah gundamentalisme agama. Hal ini tentu dapat dilihat dari upaya pelemparan wacana dan opini oleh beberapa lelompok tertentu.
Serangkaian wacana-wacana yang berupaya di Propagandakan oleh Mereka, nampaknya tak lebih dari sekedar jargon lama pra Pilpres. Namun indahnya sebab dibalut dengan Retorikan yang manis. _”Mari Bela Ulama”_, _”Ulama kita sedang di zalimi”_ atau _”Mahasiswa dan Ulama bersatu melawan Rezim anti Islam”._
Yang menjadi pertanyaan kami para mahasiswa, ilama siapa yang dimaksudkan? Bukankah ulama di negeri ini ada begitu banyak.
Mamun apakah wacana Bela Ulama jauh Lebih Penting dibanding Bela Rakyat ? Rakyat yang selama ini mengalami Penindasan dan Eksploitasi paling nyata dan paling sadis yang dilakukan oleh Pihak Negara !!!
Bukankah hal ini menjadi indikasi yang nyata bagi kami Kalangan Mahasiswa, kalau wacana ini hanya sekedar Politisasi Ulama, dengan daya tarik Narasi dan Retorika ke-Agamaanya.
Sedemikian nyatanya niat buruk ini dimainkan oleh mereka guna membentuk, framing publik, dan rasa takut berlebih dari ancaman dari luar (Musuh bersama). Sehingga dari niat ini, muncul suatu pilihan untuk, memihak pada negara, guna memerangi kelompok yang dicap sebagai garis keras, sedang masalah rakyat kecil, kejahatan oleh sistem kapitalisme terabaikan.
Propaganda wacana ini hanya akan membelenggu Mahasiswa pada keadaan, status quo. Pada kekuasaan yang ada.
Sedang spirit perjuangan kita yang sebenarnya ialah lawan, lawan dan terus melawan. Hancurkan para oligarki oekuasaan, tumbangkan rezim yang tidak pro rakyat, suarakan kebenaran dan raihlah kemenangan.
Alternatif Wacana Baru
Sebagai upaya untuk meng-counter dua narasi besar yang sedang dimainkan oleh petahana dan oposisi, yang kedua duanya sama-sama berwatak Elitisme, maka diperlukan alternatif wacana baru.
Wacana yang kiranya dapat menjadi landasan fundamen bagi gerakan kampus. Wacana yang dapat memberi arah orientasi kita sebagai mahasiswa.
Wacana yang dapat memperjelas posisi kita sedang berada di mana. Wacana yang dapat menghimpun segenap elemen, kekuatan dan tenaga yang ada. Guna bersatu dan berjuang dalam membela hak Rakyat yang tertindas.
Maka perlu dipertegas kembali, bahwa kami mahasiswa adalah pihak oposisi. Namun bukan oposisi para elite—sebaliknya kami berangkat dari penderitaan rakyat.
Kami mahasiswa juga cinta akan tanah air, namun juga bukan, cinta secara buta, yang hanya akan melahirkan, sikap fanatisme buta, terhadap negara. Namun cinta yang berlandaskan atas, rasa keadilan.
Selanjutnya basis kaderisasi di kampus jangan berhenti sampai di sini. Kaderisasi yang dilakukan mesti menghasilkan kualitas epistemologi yang kuat.
Mampu memberi seperangkat pisau analisis yang mampu untuk membedah realitas yang timpang dan eksploitatif, sekaligus mampu mendorong semangat dalam mengubah realitas yang timpang tersebut, menjadi realitas baru yang lebih adil dan harmonis.
Maka dari itu semua, gerakan mahasiswa jangan berhenti sampai ia akan selalu menjadi hantu-hantu yang bergentayangan dan meneror kekuasaan yang ada, tentunya bersama buruh, tani, rakyat miskin kota, aktivis lingkungan, para santri, bidayawan, cendikiawan, dan semua elemen masyarakat yang termarginalkan oleh sistem kapitalisme megara. Mari Bersatu, kita berjuang bersama!.
Penulis : Dinastysme








